Berbenam Dalam Lumpur

ImageImage 

 Bagian 1 untuk Darunnajat

           Zendagi Migzara, aku ingin benar-benar meyakini kalam ini,tapi terlalu sulit . Sulit sekali. Nafas akan benar  sia-sia, karena jiwa ini sudah mati sejak lama. Terkubur bersama kenangan mereka. Yang tertinggal di dalam hidupku adalah kekosongan. Kekosongan adalah sengsara. Tapi sungguh aku takkan  sebodoh itu menyia-nyiakan nafas ini berhenti. Aku akan berjuang untuk sisa kenangan dari mereka,yang telah pergi.

          Siang itu riuh ramai demo para mahasiswa yang menuntut dibukanya kembali DarunnajatCollege menambah panas 11 Februari 2012,kota Bumiayu. Ya,kota kenangan antara aku dan Rifky.

 “ Bagaimana ?? “,seru Dimas yang tak mendengar yang kuucapkan karena para demonstran.

“ sudah cukup untuk hari ini ! sampai di sini dulu..”,teriakku untuk yang kedua kalinya.

           Sebagai peyampai aspirasi,kami membawahi sebuah pergerakan yang kami sebut dengan HOM ( heroes of Moslem ). Aku gadis berumur 19 tahun,3 hari lagi memasuki umur 20 tahun. Sedang kanca sekaligus wakilku, Dimas berumur 25 tahun .

 “ Di..”, panggil seorang wanita entah dari mana arahnya. Mata Dimas berburu cepat memeriksa satu persatu  demonstran. Kemudian…

“ Elisa ,is this you?”,wajah Dimas tampak sangat bahagia.

“ yes…it’s me !”, jawab wanita itu. Dia cantik. Mataku seakan perih melihat mereka. Sepertinya, ia masih gadis. Ah…ada apa  lagi ini ?! Dimas …ia hanya kawanku,kenapa harus ada rasa sakit di hatiku ketika melihat keakrabannya dengan wanita yang disebutnya Elisa itu? Apakah wanita itu…

          Aku segera berbalik membelakangi mereka. Akan kusembunyikan tangisku dan harus. Tak disangka-sangka segudang tentara menembus benteng pertahanan kami. Peluru ditembakannnya ke udara. Aku segera tersadar . Aku berjalan cepat di tengah sesaknya para demonstran. Kurebut megafon dari salah seorang mahasiswa.

“ Semuanya ,dengarkan..!! dengarkan aku “,teriakku. Akhirnnya suaraku dapat melerai keriuhan .Ssemenit kemudian keheningan terasa namun tetap tegang.

 “ Kita di sini untuk yang haq, Kita di sini atas nama kebenaran. Jika terbukti pemimpin dan petinggi yang duduk di sana tidak menanggapi jeritan kita, maka demo ini akan terus berlanjut, Allahu Akbar..!”, tak terasa air mataku menderas ,lalu kuulangi takbir dan meneriakkannya.

            Itulah ,memang itu. Darunnajat. Tempat kali pertama aku bertemu dengan Rifky. Allah … hidupkanlah Darunnajat yang penuh kenangan akan kami. Mudahkan usaha kami,mudahkan.

 “ Nona,hentikan semua ini,karena hanya akan membawa pada kerugian “,seru seorang tinggi tegap dengan seragam macan tutulnya memperingatkanku.

 “ tidak selama sekolah itu masih ditutup “,jawabku.

 “tapi usahamu akan sia-sia ! “,tambahnya.

 “ hah  Tupai semuanya ! Astaghfirullah…! Sia-sia? Lihat mereka ! dia..lalu dia ! mereka semua berjuang untuk itu. Tak sadarkah ,Tuan ? lihat sekeliling ! adakah masjid itu bernyawa bila saatnya shalat telah tiba? Tidak bukan? Lalu bagaimana dengan pendidikan moral mereka? Mereka perlu diingatkan ! oh,bukan hanya mereka, tapi kita semua ! lalu dengan apa ? tentu dengan majlis talim yang seharusnya  kini dibuka kembali “,tegas kupertahankan yang kuperjuangkan.

 

 Bagian 2 Tentang Dimas

            Ruang sempit yang begitu berantakan menyaksikan kegelisahanku . masih dalam kesibukan menata kamar, Aku terus membayangkan betapa dulu kehidupanku amat sempura, sempurna karena ada yang membuatnya sempurna. Namun,semua itu lenyap begitu saja hanya karena satu hal. Kemudian setumpuk kertas yang terpampang di atas meja kusapu dan kubuang jauh-jauh. Surat-surat dari sahabatku,juga pencuri hatiku.

 “ Kenangan yang tak perlu kukenang “,kataku sendiri.

Di depan pintu kulihat wajah Dimas keruh,membisu.

 “ Dimas !”,sapaku tanpa ekspresi. Lalu ia menghela nafas dan berjalan ke arahku.

 “ Kau baik?”,tanyanya penuh perhatian.

 “ ehm…seperti yang kau lihat ! kau? “. Dia memandangku dengan amat sarat makna. Tapi entah apa itu,entah apa yang ingin ia katakana aku tak tahu.

 “ Aku takut, sangat ketakutan “,kalimat memuakkan tiba-tiba saja keluar dari bibirnya. Petir benar-benar menyambar hatiku.

 “ oleh sebab apa ?”,tanyaku tanpa aksentuasi untuk menyembunyikan emosiku.

 Dimas ,”yang kita lakukan…yang kita jalani dan…”

 “ dan ?”. Dalam hati kumenjerit. Hentikan drama ini…hentikan !

 “ Aku tak kuat lagi…”,lanjutnya. Hancur hatiku mendengarnya. Satu jam yang begitu menyiksa. Satu jam yang memperjelas semuanya. Ia begitu jujur menyatakan ketertarikannya padaku. Seharusnya  pernyataanya menjadi kabar gembira dan membahagiakan bagiku,tapi kenapa tidak ? lalu tentang demo? Ia tidak berniat sama sekali terjun ke dalam tetek-bengek semacam demo dan keributan.

 “ Semua kulakukan karenamu,karena ingin dikenal olehmu. Lebih dari sekedar teman, ya,lebih dari seorang Dimas. Lebih !”,tuturnya dengan suara bergetar.

 “ lalu Elisa?”,selipku.

“Ia..ia bagian dari masa laluku. Namun,sekali lagi ia menempati hatiku. Dan kau mati rasa. Hatimu tak mampu merasakan dan menyadari ada apa denganku. KAU TAK PERNAH ADA RASA UNTUKKU “,ujarnya jujur dan sangat menyakitkan.

“ ya sudah..!”,

 “ Apa maksudmu ?”,Dimas tampak bingung.

 “yah..keluar saja dari semua ini,tak apa. aku kuat,aku pasti bisa “. Kenapa aku harus membohongi hatiku ? aku pasrah.

“ lagi pula kau ingin tenang bukan ?”,imbuhku.

 “ Amrina…”,

 “ Memang melelahkan tapi aku senang. Terimakasih atas segala yang kau lakukan. Sejujurnya aku tak bermaksud dan tak pernah berniat  membebani seorang pun,apalagi dirimu “,tambahku.

Haaa……kh !!!!

 

 Bagian 3 Sahabatku

            “ cit..cuit…”. burung gereja menambah ayu pagi hariku. Sinar surya melewati kaca jendelaku dan dalam semangat yang baru kubangkit dari tidur. Schedule yang terpampang jelas di depan lemariku mengingatkan,

 “ nge-les anak SMP,ada jam kuliah…”. Terlalu . sangat padat. Ohoi !! anak HOM ,bisa ketemu mereka nih sore ini , HOM..tunggu aku. Mereka adalah kawan-kawan seperjuanganku, lebih spesifiknya sobat-sobat yang membantuku membebaskan Darunnajat.

           Merdunya sholawat kudengar dari ponselku. Kupikir sekarang masih terlalu dini ,siapa yang menghubungiku pagi-pagi begini ? kuangkat, kudengar suara Dimas  yang bergetar dari seberangsana. Khawatir. Seketika tulang kakiku serasa patah dan aku pun terjatuh pasrah.

 “ Apa?! “,kepalaku pening. Semua yang kurasa amat cerah berubah gelap. Setelah saat itu tiada yang kuingat.

 “ bangunlah ,Amrina…! Buka matamu…”,Dimas menangis. Ia duduk di sampingku.

 “Apa yang terjadi  padaku ? hah..jam berapa sekarang? Robby…bagaimana dengan HOM ? “,khawatirku.

 “ Aku mengkhawatirkanmu, Amrina …. Kau terlalu lama tak sadarkan diri setelah mendengar …”,ia tak mampu mengucapkan kalimat terakhirnya, tapi aku ingat sekarang. Ia mengkhabarkan bahwa Darunnajat akan segera digusur dalam waktu dekat ini. Cobaan apa lagi  ya Robby…? Dimas pucat. Ia tampak sekali tak bertenaga. Dalam matanya tersrot bahasa kesedihan.

 “ Ada apa?”, tanyaku.

 “Ayah-Ibumu menelepon siang tadi,menanyakanmu “, katanya.

“ lalu kau menjawab …? “,

 “ kau sedang pigsan,karena kabar itu…”,

 “ oh my gosh !”,sesalku.

 “ Maaf,saat itu aku..aku sungguh tak tahu harus menjawab apa…”,jelasnya ,memohon maaf.

 “ Sudahlah…tidak ada yang perlu disesalkan. Kita lihat saja besok akan ada apa setelah kedua orangtuaku tahu yang sebenarnya. Aku hanya sedikit khawatir bila-bila kejadian yang lalu terulang kembali “.

           Kekhawatiranku cepat atau lambat pasti akan  terbukti. Ayah dan ibu pasti akan datang ke rumah kostku dan akan mencoba menghentikan perjuanganku. Aku yakin itu karena mereka tak meridloiku berbenam di dalam Lumpur politik . ya, mereka berniat baik,menjauhkanku dari malapetaka seperti yang dialami kakakku , Niam. Ia aktivis dalam HAM. Pernah sekali ia masuk ke rumah sait karena ada seorang yang tak dikenal menikamnya dari belakang ketika sedang memimpin unjuk rasa penolakan PHK tanpa pesangon. Namun , aku salut. Dengan keadaannya  yang semakin terancam ia memilih untuk tetap berjihad. Dan kisahnya berakhir dengan kematian yang mengenaskan oleh penjaga keamanan Negara. Sebab kakakku dianggapnya sebagai salah satu oposisi dari banyak pemberontak, hingga barsaranglah lima butir peluru di raganya.

                Kubenamkan kepalaku ke dalam bantal yang sejak tadi kupegang. Mengingat semuanya serasa tak ada harapan untukku.

 “Amrina …”, panggil Dimas.

Aku tetap benamkan wajahku.

 “Amrina …”, ia mengulang panggilannya . sampai yang ketiga kali ia memanggilku, barulah kuangkat wajahku.

 “ Dimas,bisakah kau antarkan aku ke anak-anak ? sekarang ! aku butuh bicara dengan mereka  “. Aku mulai bingung dengan permainan hidup ini. Dimas menatapku tajam.

 “ kaukah ini Amrina Rosyada? dimana Amrina kawanku yang tegar ? pemberani ? “, Dimas meyakinkanku. Kupandang wajahnya lama. Entah apa yang ingin aku temukan dari matanya, tapi ia…uh,terlalu istimewa untukku. Kau sungguh satu-satunya kawanku yang selalu ada, Di…

 “ jadi…”,tambahnya.

 “Aku..aku harus maju “, jawabku. Menit itu kami menangis bersama, terharu.

 

 Bagian 4 Kunjungan Orangtua

          “Amrinaku sayaaang…dimana kau ? apakah kau baik ? “,seruan ini teramat mengejutkanku. Aku bahagia melihat sosok ibu ada di depanku. Ibu mengunjungiku untuk yang kedua kalinya setelah hari raya. Rumah kecil tempatku tinggal berada di desa antara Sirampok dan Bayur, masih dekat dengan Bumiayu.

 “ Ibu…aku baik,Bu… ada apa ya ,bu? Ibu tumben jenguk Amrina ,beberapa hari lagi juga Amrina pulang“,aku menyahut panggilannya lalu menyalami tangan tuanya dengan ciuman.

 “ sungguh , kemarin Dimas  ,kawanmu bilang…”, tukas ibu terhenti.,karena melihatku sungguh baik-baik saja.

 “ Ibu percayalah..! aku baik dan sungguh tidak ada apa pun yang serius terjadi “,kutegaskan dan kuyakinkan keraguan ibu.

 Wajah ibu berubah masam. Bukan lagi ia berwajah khawatir.

 “Amrina …bapakmu, bapakmu marah besar “, kabarnya.

 “memangnya oleh karena apa ? aku tak berbuat salahkan,Bu ?”,sesalku.

 “ Kamu !!! anak perempuan. Kamu lupa insiden yang terjadi dua tahun yang lalu. Kakakmu itu berkepala batu. Tak mendenngarkan Bapak. Selalu saja bergelut dengan ini itu yang tak penting “, suara berbernada tinggi tiba-tiba saja terdengar olehku. Itu suara bapak, Ilahi…iyyaaka nasta’iin.

 “ Bapak…”,aku teramat berat kala itu.

 “ kau dengar bukan yang Bapak ucapkan ? bapak yakin kau tak keras kepala seperti kakakmu itu. Dan untuk itu kau bisa tinggalkan tetek-bengek Darunnajat ,bukan?” tambahnya.

 “ Innallaha yuhibbul mujaahidiin… sungguh Allah mencintai hambaNYA yang berjuang,Pak. Kian hari dosaku bertambah dan dengan inilah aku berusaha menghapus dosa itu “, jawabku.

Aku akui saat itu aku takut. Pandangan bapak saat itu seakan penuh dengan api kemarahan, juga kecewa. Ampuni aku ya Robb.

 “ sudah ,Pak ! Nak , sudah ! Ibu tak mau ada perselisihan di keluarga kita untuk yang kedua kalinya. Cukup Niam saja “, ibu berujar, mendinginkan suasana.

        Aku paham ibu trauma dengan kejadian dua tahun yang lalu. Kejadian yang menghapus semua kesempurnaan hidupku. Sejak kakakku , Niam meninggal  hubunganku dengan Rifky mengendor. Rifky sahabatku yang gemar akan kepolitikan,Ia bercita-cita menjadi seorang politikus, ia pun tak jarang berdebat dengan kakak tentang ini dan itu. Menikmati siang dengan secangkir kopi pahit menjadi kebiasaan mereka. Aku pun menyukainya karena talenta yang  ia miliki ,yang tampak di mataku begitu apik. Mungkin baginya hubungan kami sebatas teman, tapi bagiku lain. Ia adalah kawan sekaligus cintaku. Ia tak tahu itu dan takkan pernah tahu.

           Kemudian semakin hari jarak kami semakin jauh. Apalagi setelah ia mendengar bapak mengucapkan dengan keras kebenciannya pada apa yang digemari kakak. Aku tak percaya ia secepat itu menyimpulkan bahwa ia tak boleh bersahabat denganku. Lebih tepatnya kami berpisah pada waktu kami duduk di bangku SMA kelas dua Darunnajat. Ia pergi meninggalkan Darunnajat dan tentu saja meninggalkan Bumiayu pula. Sejak saat itu tak pernah sekalipun aku mendengar kabar tentangnya.

             Siang itu kami masih dalam ketegangan. Di ruang tamu yang terasa sempit menghimpitku,kami hanya saling membisu. lengkingan adzan ashar mengingatkan kami.

 “Baiklah, itu keputusanmu ! bila suatu saat kau tertimpa sesuatu ,jangan pernah datang pada kami. Mulai saat ini jangan pernah !!”, bapak memboikotku. Ia begitu marah kepadaku ,membenciku.

 “Ssssst…Bapak,dia inikan..”, belum selesai ibu bicara bapak memotong.

“ Ibu juga ! Ibu tidak boleh menemui anak ini !”. keduanya pergi  begitu saja dari tempatku meninggalkan kesedihan . yaa…Robby…aku bersalah pada mereka. Ibu lalu menoleh  ke arahku sebelum melewati pembatas jalan.

 “ Maaf..”,kataku lirih. Penyesalan takkan ada gunanya. Sekali memutuskan harus diperjuangkan. Darunnajatku ,…

 Maafkan aku ,Ibu.

 

 Bagian 5 Persiapan Demonstrasi

            Lantunan sholawat mengejutkanku di suatu siang di terminal. Ketika itu aku sedang bertujuan ke rumah Habibi ,salah seorang anggota HOM. Kubuka ransel pinggangku. Nokia 3315 kuambil.

 “Ehmmm..kamu ,Mas.Adaapa?kabar?kabar buruk?”,kataku terkejut dan penasaran.

 “Amrina be strong ! “,ucapnya dari seberang.

“ Tak usahlah kau bertele-tele “,kataku tak sabar.

 “Gubernur…ya ,dia akan sudah tiba di Bumiayu pukul tiga nanti “,jelasnya. Spontan semangatku menyala-nyala.

“ Tapi tak hanya itu, dia datang bersama 200 tentara dan 150 polisi dilengkapi 5 unit buldozer untuk…”,kalimatnya terhenti .

 “ Allahu Akbar “,sentak aku panik dan kaget.

 “ Terimakasih..”,terburu aku memutus telepon. Dengan sekuat tenaga aku berlari ke rumah Habibi,karena wismanya tak jauh dari terminal. Habibi  adalah wakilku yang baru,pengganti Dimas. Kinerjanya cukup memuaskan.

 “ Setelah perempatan ini…”,ujarku dalam hati.

 Semangat dan khawatir bercampur aduk dalam hatiku. Keringat menetes dengan derasnya di keningku hingga membasahi jilbab yang kukenakan. Untung saja selama satu bulan ini tdak ada jam kuliah yang menuntut banyak tugas berat hingga banyak waktu luang yang kumiliki.

“Assalamualaikum…!!!”,salamku. Di depan rumahnya aku semakin berantakan.

“Wa’alaikumsalam, eh..kau Amrina, buru-buru sekali nampaknya. Santailah ! al’ajalatu minas syaithoon”,katanya ,melihatku terengah-engah.

“Ah…dalilnya cukup dulu ! sekarang …”,kutengok jam tanganku.

“…ada dua jam untuk mempersiapkan semuanya. Yang terpenting sekarang kita menghubungi anak-anak HOM”,instruksiku tegas. Dalam kegugupan yang amat sangat kami mondar-mandir hanyut ribut bersama ponsel.

“Zacky…,Rahman,Agung..Zahra…”,kusebut nama-nama yang harus dihubungi.

“Ya.. kamu Ramdani ! hubungi juga yamg lain…oke? Jangan lupa kumpul di aula seperti biasa “,Habibi sibuk.

Setelah kurasa semuanya terhubungi ,kami bergegas ke aula ,tempat kami biasa berdiskusi panas.

          Sedikit lagi,perjuangan ini harus tetap berlanjut. Di aula,aku mulai bercuap.

Assalamualaikum…alhamdulillah was syukru lillah amma ba’du. To the point..,kawan-kawanku yang seperjuangan dan seagama…kita berkumpul di sini untuk menangani satu problem. Gubernur akan tiba di Bumiayu pukul tiga nanti. Kita hanya memiliki waktu dua jam,ya! Dua jam kurang tepatnya ..”,jelasku.

“horre….”,serentak mereka gembira.

“ stop..dengarkan ! ini sudah sangat parah. Gubernur datang dengan sejumlah tentara dan alat berat unytuk meluluh-lantahkan Darunnajat”,tambahku.

“Wahai Mujahidin,setelah berbula-bulan kita berjuang bersama,membela yang haq Lillaahi ta’aala,apakah kita akan berhenti karena ‘dia’,sang gubernur yang semena-mena? Apakah kita akan putus asa?”,tanyaku mengompori semangat mereka.

Mereka diam. Lalu ,salah seorang dengan yakin dan percaya bangkit dari kursinya dan berkata,” Tidak!”.

Berurutan satu persatu dari mereka menjawab ‘tidak’ dan…

“ Terimakasih,dengan ikhlas diiringi doa semoga Allah menunjukkan hidayahNya kepada semua yang berhadapan dengan kita,mari kita satukan tekad,Allahu Akbar!”,aku.

Alahu Akbar”,

          Pertemuan kami usaikan. Habibi yang masih berdiri di sampingku bertanya,

”ada lagi yang harus aku lakukan?”.

“ Ehm,…thanks a lot,Friend…oh ya,satu lagi,bagaimana jika kita coba minta bantuan Ust.Amir Hidayatullah,InsyaAllah beliau bersama santrinya bersedia membantu kita”.

Sekejap mata halaman kampus kami dipenuhi oleh para prajurit Islam. Jumlahnya sekitar seratus orang .Sungguh takjub ku melihat sinar mata mereka. Belum selesai ku menikmati pemandangan sorga,lima puluh rang santri yang diketuai  Ustadz Amir datang. Sungguh rahmat Allah tiada pernah ada batasnya. Kilauan cahaya surga yang terpantul dari panorama mujahidin kini terasa menerangi jiwaku. Darunnajat ….

 

Bagian 6 Detik-detik penggusuran

          Suasana sungguh menegangkan. HOM dan penggerak lain sibuk mengatur para demonstran. Setelah berbagai persiapan selesai,kami berangkat. Takbir tak henti-hentinya kami serukan. Untuk sampai ke Darunnajat kami terlebih dahulu harus melewati desa Watu Jaya,Kali Wadas barulah Pruwatan,desa dimana Darunnajat berdiri. Itu pun masih harus berlanjut ke dukuh Tegalmunding. Hingga jaraknya kurang lebih lima kilo meter. Menimbang berbagai macam kemungkinan kami pun sepakat menyewa beberapa truk untuk mempersingkat waktu perjalanan.

          Setibanya kami di Tegalmunding Darunnajat masih utuh. Itu artinya kami belum terlambat. Di saat yang amat darurat seperti ini rasa lapar menyerangku. Seakan mengaduk-aduk isi perutku,seperti ular yang melingkar-lingkar ada dalam lambungku. Kepalaku mulai terasa berat. Namun,itu semua bisa kutahan demi Darunnajat. Ah…seandainya Dimas masih turut dalam pergerakan ini,ia pasti akan datang menanyaiku perihal apakah aku sudah makan atau belum. Lalu tanpa mendengar jawabku,ia segera menghampiri warteg terdekat dan kembali dengan sebungkus nasi uduk kesukaanku.

         Gemuruh petir sore itu memberi kesan yang teramat angker ‘demo dengan gemuruh petir’,begitu dramatis. Satu menit kemudian rombongan gubernur datang. Beberapa tentara dan polisi lengkap dengan senjata menjaga secara khusus orang-orang penting termasuk gubernur. Kemudian satu dari tentara pada barisan terdepan memberi ultimatum untuk segera menyerah dan mundur.

“ Hei,saudara-saudaraku sebangsa dan senegara,kami kemari untuk menyelesaikan urusan dan ini adalah kewajiban kami. Sebaiknya agar tidak ada keributan juga agar mempermudah urusan kami di sini,kembalilah sekalian Saudara  ke tempat masing-masing. Karena keputusan ini tidak bisa diganggu gugat”,

lalu seorang lagi menambahkan,

“ Ya,sebaiknya pergi sekarang juga atau jika tidak…”,ia mulai mengancam.

“Alahu Akbar “,

Tapi tetap,mujahidin bertekad kuat dengan perjuangan mereka. Dengan takbir yang menggema di segala penjuru ,suasana semakin riuh ramai. Hari ini adalah hari penentuan bagi kami apakah kami akan mendapat kemenangan itu atau sebaliknya,kalah…ujarku dalam hati.

         Keadaan seperti ini mudah saja menjadi sumber uang bagi para informan dan pemburu berita dan tersebarlah insiden sore itu ke seluruh penjuru Negara. Ayah …Ibu,kalian melihatku..?.

          Mengkhawatirkan anak-anak HOM yang lain, aku ,Ust.Amir dan Habibi turun berbicara. Megafon di tangan kami sungguh melantangkan suara kami.

“Wahai Gubernur dan petinggi yang kami segani. Pernahkah Anda-anda seakalian memikirkan bagaimana kehidupan masyarakat tanpa bimbingan agama?”,ucap Ust. Amir mengawali,dengan penuh kharisma dan wibawa.

“ Sungguhkah kalian ingin menghancurkan moral warga Negara dengan menghancurkan satu persatu majlis taklim”,tambah Habibi.

Entah kalimat apa yang ingin kuucapkan,yang harus kuungkapkan aku bingung. Sore itu teramat menuntutku untuk tetap berdiri tegak. Di seberang sana keluargaku pasti menyaksikan kejadian ini. Ibu….jangan khawatirkan aku,Bapak…aku yakin di balik kemarahanmu pasti masih ada restu unutkku. Doamu pasti menyertaiku.

         Demo semakin meledak dan menjadi-jadi. Demonstran dan HOM menghalangi para polisi dan tentara yang hendak merobohkan Darunnajat College dengan menjadikan diri mereka benteng –tameng yang mengitari bangunan Darunnajat. Aku sempat tertegun oleh satu sosok  di antara tentara-tentara itu. Itukah orang yang selama ini kurindukan? Kucari selama empat tahun ini ? Rifky?pikiran itu lalu kubuang sejauh mungkin. Aku harus sadar. Saat ini aku berada di tengah ganasnya peperangan. Sewaktu-waktu mudah saja aku terbunuh. Ah…inikah peperangan? Jika ini suatu peperangan,maka sungguh aku tidak menghendakinya. Aku tak ingin ada darah yang tertumpah. Kepalaku bertambah pening ,sangat berat. Ku lihat di tempat yang jauh dari keramaian sosok yang amat menjengkelkan. Sosok yang pernah menjanjikan didirikannya sekolah-sekolah dan tempat-tempat untuk wirausaha,tapi semua janji manisnya nihil. Dia tampak tenang-tenang saja menyaksikan perang. Senyumnya tiba-tiba saja menambah rasa benciku. Menghilangkan semua rasa emosi yang hanya berdampak negatif itu aku membayangkan bagaimana rosulullah dan para sahabat berperang dengan jumlah prajurit yang tidak seimbang dengan jumlah prajurit yang dimilki oleh lawan. Namun semangat mereka tetap membara. Iman terpatri kuat di dalam hati-hati suci mereka.

        “Kami tak akan membiarkan majlis ta’lim ini hancur. TAK AKAN. Hingga kami dikorbankan sekalipun,kami akan tetap mempertahankan Darunnajat”,seru salah seorang santri.

      “ Akhi,kita ini mujahid kan ? aku kini berani mati detik ini pula. Allahu Akbar “,ucap seorang lagi penuh semangat.

        Sangat kacau. Satu persatu tentara dan polisi melumpuhkan para pejuang. Semakin detik semakin banyak yang  terluka dan terkorbankan. Di balik itu, aku mencoba mengambil langkah mendekati gubernur. Semakin dekat. Tanpa pikir panjang aku memanggilnya. Ia merasa sangat aman tentunya dengan pengamanan tentara-tentara khusus di samping kanan kiri depan belakangnya.

    “ tuan Gubernur ,sungguh kuingin tanyakan satu pertanyaan saja. Sekiranya jawablah pertanyaanku “ – “ atas dasar apakah Anda melakukan ini?”,aku berseru sekeras mungkin . tetes demi tetes air mataku jatuh begitu saja dari pelupuk mata. Aku akan terus maju. Setiap kali hatiku melemah dan rapuh ,maka akan muncul bayangannya. Bayangan yang kerap kali mengingatkan betapa  beratnya perjuangan dan betapa membanggakannya sebuah keberhasilan yang diperoleh dengan pengorbanan yang besar. Bayangan itu adalah bayangannya,Rifky. Menurutnya,manusia tak jauh beda dengan genting. Ya ! seorang anak manusia jika ingin menjadi berharga,berguna dan sukses ia harus banyak berusaha,banyak berkorban dan tentu saja harus melewati banyak proses kehidupan . seperti proses pembuatan genting yang awal mulanya hanyalah tanah liat yang tak berbentuk,belum memiliki guna. Kemudian lewatilah tanah liat itu banyak proses ; pencetakan ,penjemuran,pembakaran dan seterusnya hingga benar-benar menjadi genting yang utuh. Manusia butuh proses-proses itu,proses penyempurnaan untuk menjadi orang yang benar-benar orang. Itulah yang ia katakan. Dan semua itu ternyata mampu mengikatku untuk tetap berbenam dam lumpur.

 

Bagian 7 Kesedihan dan kebahagiaan dalam satu detik

          Untuk yang kesekian kalinya aku berteriak memanggil gubernur yang duduk di atas robot penghancur,buldozer. Tak ada jawaban. Cukup dekat untuk dapat  mendengar teriakanku. Beberapa menit kemudian seorang berseragam tentara mendekatiku. Ia utusan gubernur. Salah satu dari tentara khusus yang menjaga gubernur. Hatiku semakin berdebar kencang. Jika memang ia utusan gubernur yang diutus untuk mengamankanku maka kini aku siap untuk mati. Air mataku tak sanggup untuk kubendung. Perasaan hancur semakin menggerogoti sarafku. Penat tak lagi tertahan. Pandangan mataku mulai kabur. Kenapa harus Rifky yang ada di depanku di saat yang seperti ini?kenapa!? ia seorang yang kukagumi. Namun ia kini berbalik menjadi seorang yang kubenci. Bulshit ! pendusta! Kebenaran apa yang kau bela Rifky? Apa ? sungguh pertemuan yang tak kuharapkan. Sangat menyakitkan.

‘ Oh begitu..ahh.. aku hampir saja menyesali ini semua. Aku memang seorang gadis bodoh. Kenapa hatiku harus menyimpan rasa….hmmm..it’s not good to discuss”,ucapku ketika ia benar-benar memandang mataku. Seakan bercerita bahwa kesedihan juga sedang dipendamnya.

“ ah ya…! kau utusan gubernur bukan? Baik sampaikan kepadanya kami tidak akan pernah menyerah meski kalian menawarkan kematian dengan senjata-senjata yang kalian pegang,dengan alat-alat besar itu. Tetap tak akan berhenti”. Aku semakin yakin ,dia yang ada di depanku tak algi pantas untuk kukagumi.

“ fit..”, Rifky mencoba bersuara. Melihatnya kenapa ahtiku tergetar.

“ lihat seorang tentara tanpa kawan ! ayo kita tangkap dia..”seru seorang demonstran. Seketika aku terkejut. Rasanya aku ingin menyuruhnya untuk berlari menjauh dari tempat itu. Rifky tetap mematung. Sadarlah ,Rif…sadar ! kau benar-benar membuatku marah. Ia menoleh ke arahku. Matanya berkaca-kaca. Kemudian entah sebab apa ia kehilangan keseimbangan untuk berdiri tegak. Hampir saja ia tersungkur jika seorang paruh baya tak segera menolongnya.

“ aku tak bi..sa”,kata Rifky lirih sebelum keduanya benar-benar menjauh. Si paruh baya berhenti dan menoleh.

“ ia tak seharusnya mendapatkan luka ini,karena ia hanya seorang yang berada di tempat dan waktu yang salah”,katanya.

Kali detik ini aku yang membeku di tengah demo yang semakin memanas.

       Mahasiswa dan santri tetap kukuh dengan tujuan mereka,meski tak sedikit dari mereka yang terluka,termasuk Habibi. Ia terkena pukulan senapan yang didaratkan oleh tentara-tentara itu. Lalu, kau semakin takut.

“ Ustadz…Ustadz Amir…”,teriakku memanggil sang ustad ketika tak kudapati beliau di tengah ramainya perang. Sampai akhirnya kudengar takbir yang diserukan ustadz Amir.

“ subhaanallah…”,ucapku seketika menyaksikan ustadz Amir tengah menghalangi buldozer yang hendak menghancurkan Darunnajat. Lalu aku turut dengannya. Betapa bahagianya menjadi mujahid. Melihat kami berdua banyak santri dan mahasiswa yang lain menjadi lebih bersemangat . Sehingga para tentara dan polisi kewalahan dengan situasi tersebut. Mereka menjadi ragu untuk melanjutkan  peperangan antar saudara sebangsa  mereka. Baku hantam dihentikan. Medan yang penuh amarah itu berubah hening. Inikah pertolongan Allah yang ditunjukkan pada kami?! Aku yakin ini benar adanya. Langkah meninggalkan tempat berdarah itu dipilih oleh para tentara dan polisi. Bercak darah kini terlihat dengan jelas. Di sana hanya tersisa para demonstran dan kesunyian. Aku sungguh takjub. Betapa mengagumkan ketika Allah menunjukkan kebesarannya. Kami lalu saling berjabat-tangan dan dilanjutkan sujud syukur bersama. Sedang dari kejauhan gubernur terlihat marah  besar.

“ Tidak mungkin ! aku rugi  besar. Pusat perbelanjaan yang sudah kurencanakan hancur sudah. Hei, tunggu !  kenapa berhenti? Ada apa dengan kalian ? aku bekerja untuk rakyat,lihat!  Aku akan memberikan banyak lowongan pekerjaan ! kembali semuanya !!!”, serunya sendiri dan tak dihiraukan. Ia tak mengira semua itu bakal terjadi. Semua yang ia titahkan diingkari.

 

Bagian 2 KasihNya Menyatukan Kami

         Setelah sore itu,seluruh HOM  dapat menghela nafas,lega. Polusi tak lagi menyesakkan paru-paru. Aku kembali ke rumah kosku dengan hati yang amat adem. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu aku langsung masuk ke dalam, karena memang hanya aku sendiri yang menempatinya. Dimas tak kusangka sudah berada di sana. Ingin aku segera bercerita dan berkisah tentang kebesaran Allah pada saat itu. Kuucapkan salam padanya tapi tak segera ia jawab. Kemudian ia pun berbalik menoleh menghadapku.

“ wa’alaikum salam…”,

Ya  Ilahi… ia terluka. Dahinya mengalirkan darah segar.

“ Di…mas “,

Aku sungguh menangis kali ini. Ada apa sebenarnya ? apa yang ia sembunyikan dariku?.

“ kau menangis ? bergembiralah…kita telah berhasil membebaskan Darunnajat. Allah telah memberi kita kemenangan…”,ucapnya dengan sesekali meringis karena luka di keningnya terus mengalirkan darah.

“ bagaimana mungkin aku bisa bergembira bila melihatmu terluka seperti ini.. aku  baru tahu kalau kau sebenarnya pemain drama yang handal. Bukankah kau bilang tidak ingin lagi menggeluti neraka politik ini setelah…”,penyesalan sungguh kurasakan.

“tidak…tidak mungkin aku membiarkanmu bertempur sementara aku tidak ingin melihatmu terluka sedikit pun. Dan tentang Elisa…ia tetap menjadi masa laluku”, terangnya.

        Kali ini aku bingung. Hati kecilku condong pada laki-laki baik di depanku ini,sementara di ruang hatiku masih ada nama Rifky,cinta pertamaku yang kini berubah menjadi benalu.

“ assalamualaikum…”,

Kami menoleh ke arah pintu. Di depan sana bapak dan ibu tampak begitu teduh. Kesalahanku kah ini? Tapi apa? Kutelan ludah dalam-dalam. Khawatir memuncak menggodok isi kepalaku.

“ Anakku..”,panggil bapak lembut,terdengar tulus di telingaku.

“kami senang kau baik-baik ,nak.. doa kami sungguh senantiasa menyertai langkahmu.”,lanjut ibu. Kami berpelukan. Awal yang baik,kataku dalam hati. Allah memberiku jalan tidak hanya saat demo itu. Namun Ia pun menyatukan kami kembali dalam rumpun keluarga yang indah.

         Malam itu berlalu dengan kehangatan kasih sayanng. Setelah makan malam ,kami semua berbincang-bincang sebentar dan kemudian istirahat.

“ Dimas,kau sudah baikan bukan? Aku sungguh khawa…”,kata-kataku terhenti karena jari telunjuknya lembut membungkam bibirku untuk berkata-kata.

“ Sssstt…aku baik karena kau telah mengobati lukaku ini…memang masih sedikit memar dan perih,tapi insyaAllah…besok juga sembuh . istirahatlah ke kamar,karena besok kita harus bangun pagi”,jelasnya.

 

05.00…

“Oaaaaaaahh…”.

A sunny day. Kucoba lanjutkan kisah hidupku. Tentang Dimas,Rifky yang jahat dan aku yang malang. Mengingat masa lalu,aku merasa begitu dipermainkan. Permainan yang hanya dikuasai oleh sepihak,yaitu waktu. Mataku seakan menyaksikan kembali diriku sendiri pada demo siang hari kemarin. Betapa bodohnya aku jika tetap mengingatnya. Sangat bodoh. Lalu untuk sekedar cari angin,kucoba nikmati pagiku di warung langgananku.

“ Apa yang kau tekuni ,Amrina?”,tanya Dimas.

“ Buku terjemahan dari la bible le coran at la science,karya Maurice Bucaille..”,jawabku.

“ oh…, tapi sebentar,tunggu dulu..ada sesuatu yang tidak pas dengan dirimu hari ini”,ucapnya.

“ Memang apa?”,kataku.

“ Kau tampak pucat. Kau sakit?!”,tanyanya dengan suara meninggi.

“Aku sakit? Kurasa tidak..mungkin hanya terlalu lelah”,jelasku.

Sepamjang siang itu kuhabiskan dengan flirting di alun-alun bersama Dimas. Di luar dugaanku,kujumpai tentara paruh baya yang kemarin menolong Rifky mengendarai sepeda motor.

“ Orang itu…?! dia…”,ucapku terhenti lalu berlari mengejarnya.

“ siapa dia?”,tanya Dimas dan tak sempat kujawab,ia turut berlari mengikutiku di belakang.

“ tentara kemarin ! pak tunggu..!”,panggilku. Ia berhenti.

“ De Amrina…soal Rifky?”,tentara itu dengan tepat memahami maksudku. Kemudian ,ia mengajakku mencari tempat yang nyaman untuk bercakap-cakap. Bangku panjang di bawah pohon beringin menjadi pilihan yang terbaik. Ia pun emulai ceritanya dan kusimak baik-baik.

“ Sejak kali pertama ia menyaksikanmu turut dalam demo ini ia merasa tak berdaya. Ia merasa sangat bersalah karena tak mampu berbuat apa-apa. Padahal,ia sadar ia merupakan tangan kanan komandan yang mengambil bagian dalam  penuntasan kericuhan ini. Kau  bisa percaya padaku karena aku teman terdekatnya “,jelasmya panjang.

       Aku mulai ragukan pilihanku. Sebutan apa sekarang yang pantas untuk kutujukan pada Rifky!? Masih Rifky yang jahat?.

“ Amrina…kau masih mengharapkannya?”,linu Dimas ucapkan kata-kata itu.

“ aku sama sekali tak punya waktu untuk memikirkan hal macam ini”,jawabku asal.

“ Am…?”,ia tetap kukuh dengan pertanyaan bodohnya.

“ Aku…ehm..eh..m,entahlah !”.

        Berat untuk kujelaskan. Namun hatiku mengatatakan bahwa aku bimbang harus ada untuk Dimas ataukah Rifky. Lama aku membisu hingga engahan nafas Dimas terdengar keras di telingaku. Kuputuskan untuk mundur dari pergelutan sunyi itu dan kembali ke rumah. Kutinggalkan Dimas di latar alun-alun tanpa kepastian.

 

Bagian 9 Semuanya Berakhir

       Aku sungguh dalam kegelisahan yang amat sangat. Entah apa yang kukhawatiri karena malam ini. Sejak sore pun aku memang sudah begitu gelisah. Shubuh yang pekat dengan kab utnya menyegarkan mataku. Rencanaku, aku akan mengadakan meeting dengan anak-anak HOM di aula seperti biasa. Bukan lagi tentang masalah tentunya. Namun sekedar untuk mengucapkan terimakasih atas segala bantuan dan kerjasama seluruh pejuang-pejuang Islam sehinngga Darunnajat dapat kembali hidup dan menghidupkan suasana Islami di Bumiayu.

     Cuaca selasa siang itu sangat mendukung. Pukul sembilan pagi seluruh peserta kumpulan telam siap di ruangan. Ponselku berbunyi menyanyikan nada-nada penyejuk jiwa. Kemudian dari seberang sana suara Dimas terdengar lemah dan gugup.

“ Amrina..aku..aku mimpi buruk semalam..”,ceritanya.

“ it’s  just a dream.. you may  not care”,kataku coba menenangkan.

“ tapi itu menyangkut kamu..kau pahamkan perasaanku?”. Dimas sungguh khawatir. Ia pun  melanjutkan ceritanya,

“ Apalagi ini sungguh terasa nyata. Kau terbang dan menikmati langit,sedang aku tinggal sendiri di bumi ini. Am..kau paham kan? Aku memang bodoh. Aku takut kau benar-benar meninggalkanku”.

Dimas terdengar benar-benar khawatir. Aku baru kali ini merasa berarti untuk orang lain. Sekali ini ia meluluhkan hatiku.

 “ Sabar..tenanglah! aku masih di sini. Ehmmm..anak-anak sudah kumpul, aku masuk dulu ya?”,kuusaikan obrolan kemudian memasuki ruang besar aula yang dingin karena air conditioner.

“ Assalamu’alaikum..”,baru sempat kuucapkan salam,

“ Dooor !!!”,

Sesuatu menyela dan menyumbat mulutku. Linu,kelu,perih tepat di punggungku. Inikah jawaban dari kegelisahan yang Dimas dan aku rasakan? Aku akan pergi jauh sejauh Allah membawaku pergi. Sendi-sendi tulangku terasa remuk dan hancur berkeping-keping. Semua mata terbelalak menyaksikan kejadian itu.

“ Ka Amrinaaa…”,

“ Amrina..”,

“….”,

“ Habibi,bisakah kau nyalakan lampu untukku. Aku sungguh tak bisa melihat..semua..semua gelap”,kataku mulai tak menyadari keadaan.

“ Amrina…” , histeris dan sungguh nyaring teriakan-teriakan itu. Beberapa orang keluar  mencoba mengejar si penembak.

“ Allah…All..ah”,

“ Ambulan…ambulan”.

Satu detik kemudian aku merasa begitu ringan layaknya debu yang terhempas bayu. Aku melayang menjauhi kerumunan dan melewati dinding. Kemudian aku melihat dari udara Dimas memukul tanah berulang kali dan menangis. Tampak pula olehku dari kejauhan sebuah kijang berlari kencang ke tempat kejadian.  Wajah Rifky muncul dengan sejuta ekspresi  pilu. Tangis membuncah membelah ketenangan siang. Sedang aku hanyalah kaku dan beku. Inilah akhir dari hidupku. Berakhir dalam benaman lumpur.