Are You Ready To Be The True Learner?

Hidup ini adalah sebenar-benarnya sekolah kita. Sekolah yang paling elit dan berkualitas bagi kita,jiwa-jiwa pemenang. Mengapa demikian? Jawabannya tidak perlu kita pikirkan jauh-jauh,karena the key dari jawaban pertanyaan tersebut adalah diri kita sendiri dan eksistensi nyata kita di bumi ini.

Mari kita renungkan ! jika hidup ini merupakan ‘sekolah’,apa yang menjadikannya dapat disebut sebagai ‘sekolah’? ya ! tepat sekali !,the learners. Kita lah para pembelajar itu. Tapi apakah cukup bila sekolah dapat disebut sebagai sekolah jika hanya ada komponen ‘pembelajar’? tidak,  ternyata ada hal lain lagi yang juga menjadi komponen penting dari sekolah agar menjadi seutuhnya sekolah. Yakni materials atau obyek yang kita pelajari serta Sang Guru Sejati.

Lebih jauh lagi,mari kita lanjutkan sharing kita tentang tiga komponen yang sudah disebutkan dalam paragraf sebelumnya.Yang pertama,the learner,pembelajar. Setiap dari kita tercipta sebagai pembelajar. Semua berawal dari kehidupan kita sebagai benih yang belum sempurna bentuknya,masih berupa sperma. Kita terpilih sebagai pemenang atas benih-benih yang lain,melalui suatu ujian yang tidak mudah. Itu artinya kita dipercaya oleh Allah untuk melanjutkan tugas kita sebagai ‘pembelajar’. Mengapa harus menjadi pembelajar? Karena kita manusia. Dengan modal yang Allah berikan kepada kita cukuplah menjadi bukti bahwa semua itu dianugerahkan kepada kita agar kita menjadi pembelajar sejati ; akal,hati,indra. Betapa tidak ,semua itu kita miliki agarlah kita mempelajari  ilmu dan pelajaran yang ada di dunia ini, dalam hidup kita yang singkat ini. Sehingga apa yang menjadi kehendak Allah untuk kita ketahui dapat kita pahami. Yaitu ayat-ayat Ilahi,kebesaran-kebesaranNya. Tujuan dari memahami ayat-ayat Ilahi adalah kita akan menjadi seorang mu’min sejati,yang dapat menerima dan ridho atas segala hal yang kita hadapi dan peroleh.

Komponen kedua yaitu materi,obyek yang kita pelajari. Apa yang sesungguhnya kita pelajari di ‘sekolah elit dan berkualitas’ kita ini? Apa yang ingin kita kaji,ungkap dan mengerti dari hidup ini? Kita mempelajari banyak hal;mempelajari ilmu-ilmu Allah yang tak terbatas. Allah mendatangkan berganti-ganti masalah dalam hidup kita. Artinya; Allah tengah mengajarkan kita ilmuNya,memberi kita kepercayaan dan kesempatan untuk menggali ‘mata air’ ilmu yang begitu  berharga untuk diri kita. Ketika Allah mendatangkan cobaan finansial kepada kita dengan penghasilan yang sangat terbatas untuk memenuhi segala kebutuhan kita, sesungguhnya Allah tengah mengajarkan kita untuk menjadi insan kreatif,inovatif dan produktif. Kita menjadi mempunyai tuntutan untuk bekerja lebih keras dan lebih kreatif mencari inovasi dan solusi,serta  lebih sabar untuk tetap berjuang menjemput rezeki yang Allah sediakan untuk kita di bumi ini. Saat Allah menguji kita dengan permasalah perbedaan pendapat di antara keluarga kita, kawan-kawan kita atau bahkan masyarakat di lingkungan kita, maka sesungguhnya Allah tengah mengajarkan kita untuk lebih bijak menerima ketidaksamaan idealisme,suatu perbedaan,dan lebih adil untuk memutuskan suatu sikap.

Maka jika ada pertanyaan, siapakah sesungguhnya the true learner? Jawabannya bukanlah para mahasiswa, sarjana, doktor atau pun insinyur-insinyur yang telah memiliki nama. Bukan hal itu yang menjadi tolak ukur seseorang dikatakan sebagai pembelajar sejati . Akan tetapi , dia adalah pembelajar dalam hidupnya, yang mau mempelajari berbagai masalah sehingga ia memetik hikmah di balik tabir masalah-masalahnya.

Kita bisa bandingkan. Bila ada dua orang,yang pertama ia berulangkali menghadapi cobaan dan menghadapinya. Sedang  orang yang kedua  selalu  berada dalam posisi nyaman dan aman. Maka apa yang terjadi bila masalah baru menimpa keduanya? Bagi orang pertama hal tersebut merupakan hal biasa ,yang ia sadari hal itu memang selalu ada dalam kehidupan. Namun apa yang terjadi dengan orang yang kedua? Ia akan terkejut, kaget karena ia tidak terbiasa dengan keadaan tidak nyaman tersebut,dan goyah jika mentalnya tidak segera dikokohkan untuk menghadapi permasalahan yang ia miliki dan harus ia cari solusinya.

Selanjutnya, komponen ketiga dari ‘sekolah’  adalah Sang Guru Sejati, al ‘Aliim, kunci untuk membuka semua rahasia . untuk dapat menjadikan kehidupan ini sebagai ‘sekolah’  kita harus  mengenal Sang Guru Sejati kita terlebih dahulu. Bila tidak,yang terjadi adalah kita akan buta untuk melihat, tuli untuk mendengar dan hilang rasa untuk mengecap dikarenakan semua masalah nampak sebagai siksaan dan luka yang mendera. Hati kita bisa gelisah, resah, khawatir  serta takut untuk menghadapi hari-hari selanjutnya,karena akan ada cobaan yang lebih berat lagi datang kepada kita. Berbeda jika kita sadar bahwa  ada grand sutradara and manager di dalam hidup kita, sadar bahwa ada yang  Maha Mengatur hidup kita. Dengan kesadaran ini kita akan rela menghadapi segala ujian yang datang . karena ada keyakinan dalam diri kita bahwa Allah tidak akan menghadirkan suatu masalah tanpa menyediakan solusinya, Ia tidak akan menghadirkan suatu masalah di luar kemampuan kita. Dan di sinilah kita memainkan peran kita sebagai ‘pembelajar sejati’ , berupaya untuk menemukan solusi dan memetik hikmah yang Allah bahasakan melalui masalah-masalah tersebut.

Allahlah Sang Guru Sejati kita, yang mengajarkan kita untuk melihat hitam bukan sekedar warna hitam, merasakan pahit tidak sekedar rasa pahit, sakit bukan hanya sakit yang menyiksa. Karena segala hal di dunia merupakan bahan kajian yang penuh makna bagi the true learners, para pembelajar sejati.

So,are you ready to be the true learners?    

Sang Pengembara

 

                                                            waktu

Suatu hari saat kita duduk dengan keluarga kita, atau tengah berbincang-bincang dengan kerabat kita, berkumpul dengan kawan kita, sebuah suara tiba-tiba menarik perhatian kita. Mengajak telinga kita untuk mendengar dengan seksama, menyela sejenak obrolan kita,

Innaalillaahi wa Innaa ilayhi rooji’uun…telah meninggal, ayahanda dari…Fulanah ,..”.

Kita tertegun untuk sesaat, seperti kita menyaksikan sebuah slide yang begitu cepat terputar di mata kita..tentang suatu masa ketika kita harus kembali padaNya.

Sudah menjadi bagian dari kehidupan di dunia ini, bahwa setiap yang bernyawa akan mengalami kematian. Namun kapan kematian itu menjemput, masihlah menjadi rahasia Sang Kuasa.

Dari Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku dan bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan.” Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata, “Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore, manfaatkanlah masa sehat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari) [Diterjemahkan dari Penjelasan Hadits Arba’in No. 40. Oleh: Abu Fatah Amrulloh].

Sebuah pesan dari sang kekasih Allah dengan lembut disampaikannya kepada seorang sahabat bernama Ibnu Umar. Dengan memegang pundak Ibnu Umar, Rosulullah menunjukkan perhatiannya kepada pemuda berumur dua belas tahun itu bahwa di dunia ini manusia berlakulah layaknya orang asing, layaknya penyeberang jalan, layaknya pengembara. Mengapa demikian?

Karena tempat asalnya manusia adalah surga, sebuah tempat yang layak bahkan sangat patut untuk kita rindukan, bukan hanya tentang kenikmatan seperti yang disediakan di kehidupan fana’ ini, melainkan sebuah tempat abadi, sebuah sangtuari yang sesungguhnya. Bagaimanapun dunia ini –seperti yang kita tahu- merupakan tempat singgah kita yang suatu ketika mau atau pun tidak mau, menerima ataupun tidak menerima kita harus meninggalkannya beserta seluruh isinya untuk kembali kepada dunia yang kekal.

Pengembara. Demikianlah kedudukan kita di dunia ini. Sebagai seorang pengembara, kita diingatkan oleh Rosulullah untuk tidak terperdaya oleh kehidupan dunia sehingga kita lupa akan kampung halaman tempat asli dan asal kita. Kita hanya tengah mengembara untuk sementara sampai urusan kita di dunia ini selesai. Dan apa yang kita cari dan lakukan di dunia ranah kita mengembara ini?  Yang kita lakukan adalah mengerjakan sebaik-baiknya kewajiban dan ibadah yang ditetapkan sebagai bekal untuk kita dapat berpulang ke kampung halaman tercinta kita. Dengan menghadirkan hukum syariat dalam hati kita di setiap keadaan kemudian melaksanakan konsekuensi hukum tersebut. Jika kita lalai dan terjerumus, kita harus segera beristighfar dan bertaubat. Manusia yang demikianlah yang akan dapat kembali ke sisi Allah dalam keadaan yang sempurna. Itulah bekal yang menjadi syarat utama kita.

Hadits di atas memberi kita peringatan agar dapat menghidupkan hati kita, agar tidak lalai dari tipuan dunia, masa muda, kekayaan dan sebagainya. Ketahuilah! Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Jika kita lalai tentang hakikat ini maka kematian dapat menimpa hati kita. Hal ini pulalah yang menjadi alasan Adam dan Hawa diturunkan dari surga. Sebagai cobaan dan balasan atas perbuatannya melanggar perintah dan larangan Allah. Jika kita renungkan, kehidupan kita di dunia ini sesungguhnya penuh dengan cobaan, ujian dan bisikan nafsu. Oleh karena itulah kita diingatkan untuk senantiasa mengendalikan nafsu kita dan mendidiknya dengan prinsip bahwa sesungguhnya tempat tinggal kita adalah di surga, bukan di dunia ini. Kita berada pada tempat yang penuh cobaan, kita hanya seorang asing atau musafir. Dengan demikian hati kita akan selalu hidup dalam dzikrullah.

Seorang penyair menuliskan;

Palingkan hatimu pada apa saja yang kau cintai
Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu
Yaitu Allah jalla wa ‘ala

Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang
Dan selamanya kerinduannya hanya pada tempat tinggalnya yang semula
Yaitu surga

Wallahu a’lam bi s showaab. Mudah-mudahan Allah senantiasa menyertai kita dan membimbing langkah kita di jalanNya. Aamiin.