‘Before Sleeping’ Idea ^_^

This life is something i called as ‘INNOCENCE’
and i called also with ‘HONESTY’
i called again with…’FALSEHOOD’
more over..i called as ‘CHANCE’

Jadi..menjalaninya dengan baik dan dengan cara yang baik adalah jalan terbaik.
bukan pasrah..bukan ambisius..bukan asal-asalan.
Terlebih, manakala ada yang membuat kecewa..sesuatu tidak sesuai harapan,…

Mesti tetep pasang ‘kuda-kuda’ dan slow…
ditambah CERIA…
Insyaallah Indah…
karena senyum-mu adalah syukur-mu (aamiin)selud

Iklan

Mid-Night Story

On a mid-night..the silence was singing its song,
bringing the peace of heart dreaming…
so far…reaching the truth of HIS languge.
The Almighty said, that all what He did..were the being of Love.

Under treasures of this life…stressed these minds and heart,
but hoping only to Him, everything can be a joyful thing..
with this receiving heart…trying to be free from a silly thoughts and ideas to give up. Trying to be wise…as good as ppossible.

just saying to this heart….
It will be ended well.
forgive your self for all those mistakes…
and form again your future in a hopeful wish only to The Almighty.

take the wisdoms of this falsehood trial. don’t let that black shadow following your steps up till you were being on a doubt.
Believe in Allah the only…
and everyone is only has a limited honesty of his heart.
cry and smile….is the colors of this life.
keep on your strugle…
keep move on…….
let it be…flow…

Manusia Dan Kesempurnaannya.

Kita adalah makhluk yang sempurna. Sempurna karena memiliki banyak hal yang tidak dipunya makhluk lain.
Kita sempurna, amat sempurna sampai terkadang aku terheran dengan kesempurnaan itu. Dan hanya Tahmid, tasbih serta istighfar yang dapat kuungkapkan menyaksikan kesempurnaan itu.
Kesempurnaan dalam diri kita adalah jelmaan dari beribu sifat dan sikap yang termanifestasi dalam kahuripan kita sehari-hari.
Manusia menjadi sempurna karena padanya ada hitam dan putih (serta warna lain), karena ada baik-tidak baik, ada senang-belum senang, ada jujur-dusta, ada setia-khianat, adil-belum adil, dan sebagainya.
semua itu wujud dari manusia. Manusia…dan hanya ada ada manusia.
Dan kejujuran manusia…tidak mewujud selamanya.
Astaghfirullah…
Alhamdulillaah…
Subhaanalllah…
(atas segala pelajaran yang Engkau ajarkan padaku. Terimakasih ya Robb)

Ayah

Rasulullah Saw pernah berkata kepada seseorang, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (Asy-Syafi’i dan Abu Dawud)

Keterangan:
Terdapat satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor. Dia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku ….” “Pergilah Kau membawa ayahmu kesini”, perintah beliau. Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata: “Ya, Muhammad, Allah ‘Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh teliganya. Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya: “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?” Lelaki tua itu menjawab: “Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya, atau untuk keperluan saya sendiri?” Rasulullah bersabda lagi: “Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!” Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia berkata: “Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya …” Nabi mendesak: “Katakanlah, aku ingin mendengarnya.” Orang tua itu berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: “Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini: ‘Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang…, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu …, seakan-akan kesejukann bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.’ Selanjutnya Jabir berkata: “Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: “Engkau dan hartamu milik ayahmu!” (HR. At-Thabarani dalam “As-Saghir” dan Al-Ausath).{http//opi.110mb.com/Image

Dialektika Ajaran Islam Di Daerah Bumiayu

1. Dialektika Ajaran Islam

Ajaran Islam merupakan ajaran samawi, ajaran yang bersumber dari langit, berupa wahyu. Melalui malaikat Jibril, Allah mengajarkan Islam kepada Nabi Muhammad. Maka, objek dalam pengajarn ini hanya satu, ajaran islam itu sendiri.

Namun, pada syiar dan penyebarannya, ajaran agama Islam mengalami tambahan corak warna. Ketika ajaran Islam itu diajarkan kepada masyarakat -di Jazirah Arab sekalipun- tetap mengalami tambahan warna atau banyak sedikitnya terpengaruh oleh apa yang telah ada dalam suatu daerah yang menjadi ranah dakwah Islam. Inilah yang menjadi asal-usul adanya dialektika ajaran Islam.

Jadi, pada dasarnya ajaran Islam hanya satu, yakni apa yang Allah sampaikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Namun, di dalam daerah-daerah yng ajaran Islam masuk ke dalamnya itulah yang menambahkan warna pada ajaran islam yang sesungguhnya, yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad.

2. Dialektika Ajaran Islam Di Bumiayu

Bumiayu merupakan daerah kecamatan yang terletak di kabupaten Brebes. Sebuah daerah yang kaya akan lahan persawahan dan perkebunan. Karenanya, penduduk Bumiayu sebagian besar adalah petani.

Dengan latar belakang mereka sebagai petani, -dan sebelum Islam datang- di Bumiayu sendiri sudah ada agama Hindu yang sudah dikenal dan dianut oleh masayarakat Bumiayu. Maka sudah barang tentu, di daerah Bumiayu ini terjadi percampuran warna atau penambahan warna terhadap ajaran Islam. Tidak dapat diukur ajaran mana yang lebih banyak mempengaruhi atau lebih kuat dalam praktisnya. Namun, di sinilah dialektika ajaran Islam terbentuk.

Banyak contoh yang menunjukkan adanya dialektika ajaran Islam di wilayah Bumiayu. Antara lain, 1) Pada 4-5 tahun yang lalu, dan masih ada sampai saat ini -meski sudah mulai hilang- para petani ketika hendak menanam atau memanen, mereka menyajikan sesajen atau sajen yang diperuntukkan kepada Dewi Sri, Dewi yang dikenal oleh penganut Hindu sebagai dewi yang membawa dan atau membagi rezeki.

Kepercayaan terhadap Dewi Sri ini terdapat dalam ajaran agama Hindu. Akan tetapi, oleh masyarakat Bumiayu -yng secara keyakinan telah beralih kepada Islam- acara ritual memberi sesajen kepada Dewi Sri tetap dijalankan. keyakinan bahwa dengan sesajen ini Dewi Sri akan memberkahi apa yang ditanam dan dipanen tetap dipegang oleh sebagian masyarakat Bumiayu, terutama orang-orang Bumiayu yang secara usia terbilang sepuh. Orang-orang tua, pada 5 tahun yang lalu, bila masa panen tiba, mereka menyajikan sajen serta menaruh air yang ditempatkan di gelas dan gelas tersebut kemudian ditanamkan di dalam kandi, yaitu karung yang berisi beras yang baru mereka giling. Gelas diletakkan di bagian atas beras, sehingga air dalam gelas tidaklah sampai mengenai beras hasil panen tersebut secara langsung.

Adapula selain keyakinan yang menjadi adat seperti memberi sajen kepada dewi Sri, yaitu 2) Diadakannya slametan atau pemanjatan doa bersama ketika ada seorang ibu hamil memasuki usia 4 bulan, atau 7 bulan. Biasanya orang yang menjalani atau mengadakan acara empat bulanan atau Ngupati, mereka membagi-bagikan makanan, dan di antara makanan yang dibagikan adalah ketupat dengan empat macam rupa, serta makanan lainnya 3) Tahlilan, yaitu doa bersama yang dipanjatkan kepada Allah untuk orang yang meninggal agar diberi kelapangan di alam kubur sana.  4) Slametan ketika ada orang yang baru pindahan rumah, didoakan rumah tersebut agar nyaman dan aman ditempati.

Demikian sebagian dari dilektika ajaran islam di Bumiayu muncul. Banyak faktor yang begitu kuat di daerah Bumiayu yang kemudian dalam penerapannya menjalankan aktifitas keagamaan ini masih tercampur dengan adat dan budaya lama yang sudah ada sebelumnya.

Wallahu A’lamu Bi s Showaab.