Antara Aku Dan Hujan

“sekarang musim penghujan tengah berlangsung, hujan turun dengan cerianya…seperti kerinduan yang terbebas dari penjara rahwana. Bumi menjadi tempat bercurahnya… jika dihitung lamanya musim kemarau tahun ini…mungkin bisa dibayangkan betapa tabah dan sabarnya sang Awan menanti saat yang tepat…masa yang tidak sebentar,really so touching…

untuk menghibur diri yang masih kering…kita bisa pandangi bumi yang basah. melihatnya sebagai bukti kasihNya..bukti bahwa di dunia ini ada masanya kita harus kering, ada masanya harus gersang..dan betapa damai memperhatikan hujan itu turun. Aku masih ingat, saat SD dulu..momen paling menyenangkan adalah saat hujan turun..saat aliran sungai-sungai kecil terbentuk dengan alami di depan rumah dan jalan-jalan …air yang mengguyur deras dari atas genting rumah tetangga bak air terjun Angel yang ada di Swiss, kalau saya tidak salah menyebutkan ..sangat menyejukkan mengingat masa-masa itu. membuat prahu kertas sebanyak-banyaknya..dan membebaskannya berlayar di samudra Hindia, berharap ia akan tetap kokoh menahan badai,menahan ombak yang memberontak…

banyak gambaran yang membuatku tersenyum sendiri me-replay masa kecil dulu..

suatu hari, aku pergi mengaji kepada seorang Guru..sekarang guruku sudah sangat sepuh, hujan tengah turun dengan  derasnya..tapi aku tetap menikmati itu..dengan gaun yang Ibu jahit sendiri..berwarna merah muda..dengan motif bunga kecil-kecil aku mengenakannya bagai putri raja… memegangi payung hitam yang sebesar kubah dan berangkat ke rumah Pak Guru Dul Bashir…kitab Iqra’ kupeluk erat di dadaku, menyusul Mas Niam yang sudah lebih dulu ke rumah pak Guru yang juga untuk mengaji. Ayah memandangiku dari pintu rumah kami…memandangiku sampai aku tak nampak lagi olehnya…memastikan bahwa putrinya baik-baik saja pergi mengaji saat hujan turun. Aku pastikan aku menikmati masa itu, menyusuri jalan dan bermain air sepanjang jalan menuju rumah pak Guru…mungkin..jika dibayangkan tinggi badanku saat kelas satu itu, dengan payung hitam sebesar kubah…akan nampak seperti jamur hitam saja jika dilihat dari atas…wajah dan badan tak nampak karena payung menutupi semuanya…sangat aman dari hujan, hemmm..^_^

ada lagi…suatu ketika..-ini adalah kisah yang aku sesali-..mengenai musim hujan…Aku sangat senang mencari ikan di sungai, kami..anak-anak udik menyebut sungai kami dengan kali..kali Ampas..menangkap ikan yang sekecil kuku-kuku kami dan kami bawa pulang untuk kami pelihara di kolam..ikan-ikan itu hidup…namun kemudian…saat hujan turun..,..ide nakal ku saat kecil dulu berkata, aku ingin membebaskan ikan-ikan itu dari kolam ke aliran sungai-sungai alami yang ada di depan rumah dan sekolah kami…melepaskannya di bawah hujan yang turun,…dan apa yang terjadi….? ikan-ikan itu mabuk…lemah, dan..kemudian…mati.

aku menyesali itu. ikan-ikanku mati karena hujan yang turun begitu hebat…karena aku menaruhnya di tempat dan saat yang tidak tepat, dan lagi…setelah hujan turun….sungai-sungai alami itu menyusut kering..airnya masuk terserap ke dalam tanah..dan ikan-ikan yang masih hidup menjadi ikut mati juga bersama ikan-ikan yang mati karena lemah..aku tidak berpikir sejauh itu…saat itu,aku hnya berpikir ikan-ikan itu akan senang dan aku membiarkannya tetap di sungai alami sementara aku pulang ke rumah…

setelah hujan mereda..aku tengok ikan-ikanku dan ia sudah mati. pucat.

aku menceritakan hal itu kepada ayah dan ibu…mereka hanya tersenyum simpul sementara aku merasa sangat bersalah karena ulahku ini. hanya sekali itu . aku berjanji dalam hati untuk tidak menaruh ikan-ikan lagi saat hujan…walaupun aku masih suka juga menangkap ikan dan memeliharanya di kolam.

di bawah hujan..aku memiliki banyak kenangan..sangat banyak…juga saat aku sebesar sekarang pun…aku memiliki kenangan…tentang kata-kata yang menyejukkan dari  Ayah dan Ibu bagai hujan yang membasahi bumi yang gersang..ten tang kata-kata dari seorang kawan yang amat berkesan bagai tiupan bayu yang lembut…”

Aku menanti saat hujan seperti waktu itu,

menanti kerinduan ini dapat  terbebas dari penjara rahwana,

Purwokerto, 19 Oktober 2012. Allah..hug me always in Your arm.

Berkreasi Ala Seniman Handal

 

“temen-temen, kita bikin tempat pensil yuk..

Via, kelompok kamu mau bikin apa?”, “ lampu hias..”.

 

Demikan keceriaan siswa-siswi SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto ketika hari yang mereka tunggu-tunggu telah tiba, hari sabtu tanggal 9 februari 2013. Ada apa di hari sabtu itu ya? Wah, ternyata pada hari sabtu inilah siswa-siswi dari level satu sampai level enam mendapat kesempatan untuk belajar mengeksplorasi imaji mereka dalam berkreasi, yang hasilnya nanti akan dipajang dan dijual di bazaar dengan stand khusus ‘Karya Siswa’ ; tepatnya bersamaan dengan hari pertama diadakannya open house Kid’s Vaganza. Sehingga tampaklah seluruh ruangan kelas dari lokal utara sampai lokal selatan tersulap menjadi ruang para seniman muda.

Level satu secara serempak membuat pernak-pernik, yaitu bros unik yang terbuat dari kulit jagung yang dikeringkan. Di tangan mereka kulit jagung kering itu diubah menjadi aneka bentuk bros yang lucu dengan warna-warni yang menarik. Sementara level dua berhasil memamerkan keahlian mereka dalam membuat bunga ‘pentul’ berbahan dasar kapas yang dibungkus kantong plastik. Patut dibanggakan, hasilnya memang sangat indah. Dua pot bunga pentul sukses mereka rangkai dan pajang menawan di stand khusus karya Siswa.

 

DSC04806 DSC04795

My Angkot Forever

 

Karya : M. Hilman

Kelas : 5 Ummar bin Khottob, SD Al irsyad 01 Purwokerto

Waktu aku pulang sekolah tadi, aku nunggu angkot di daerah Pasar Wage. Sekitar jam setengah empat aku baru dapat angkot. Akhirnya…

Siang itu aku dapat pelajaran berharga dari pak supir angkot. Selama perjalanan kami merasa hampa karena belum ada komunikasi dan sapa antara kami.

Akhirnya aku lebih duu bertanya, “Pak, sudah berapa lama bekerja sebagai supir angkot?”. Pak supir menjawab, “yaa, hampir 12 tahun lebih”, “Oh, udah lama juga ya, Pak. Selama Bapak  jadi supir Bapak pernah punya kejadian yang ga enak ga, Pak? “ , tanyaku, “Kejadian yang ga enak sih pasti banyak ya, mulai dari penumpang yang bayarnya ga sesuai tarif ada, samapai yang ga bayar juga ada”, ujar pak supir, “Lah, kalo yang ga bayar sih gimana , Pak? Apa Bapak yang ganti uang setorannya? Ya rugi dong, Pak?”, tanyaku lagi, “ya gimana ya? Mau ga mau sih dek, dari pada dimarahi sama yang punya angkot?! Mending saya ganti. Itung-itung buat amal”, kata pak supir,”Oh, memang penghasilan bapak perharinya berapa?”, tanyaku,”ya ga mesti sih dek’, kalo lagi rame ya bisa 300an lah perhari, tapi kalo lagi sepi paling Cuma seratus lima puluh ribu aja, itupun dipotong buat setoran delapan puluh ribu rupiah”, kata Bapak , “Wah, anu Pak, maaf sebelumnya, apa Bapak pernah merasa bersalah sama istri dan anak Bapak karena pekerjaan Bapak itu mungkin kurang bisa ngebahagiain istri anak?”, tanyaku. “ Waduh, gimana ya, Dek. Saya merasa sangat bersalah karena pekerjaan saya ini mungkin kurang bisa ngebahagiain istri anak saya, sebenarnya anak saya sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Waktu itu ada kejadian yang tidak bisa Bapak ceritakan. Saya sebenarnya dulu adalah pengusaha. Tapi pada waktu itu karyawan saya banyak yang mengambil uang tanpa sepengetahuan saya, sehingga usaha saya bangkrut. Pada waktu itu anak saya sedang mau masuk SMA. Saya pusing memikirkannya. Pada saat kejadian tersebut tiba-tiba anak saya hilang selama tiga hari. Saya sudah berusaha melaporkan kepada polisi serta mempublikasikannya kepada masyarakat identitas anak saya yang hilang, tetapi hasil yang didapat adalah anak saya ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Pada waktu itu adalah puncak kehancuran hidup saya. Saya berusaha tegar menghadapi ini semua. Tetapi ada satu kejadian lagi,  bahwa istri saya sampai sekarang belum ikhlas menerima kenyataan kerasnya dunia. Semenjak kejadian itu istri saya sering sakit-sakitan. Saya bingung lagi untuk membelikan obat untuk istri saya. Untuk makan kami berdua saja sudah pas-pasan, gimana buat biaya obat yang makin mahal. Saya berusaha untuk terus bersabar menjalani kerasnya dunia sambil berdoa. Saya juga percaya semua bisa terjadi. Apalagi Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambaNya tersebut. Melai saat ini saya berusaha memulai kehidupan saya dari nol. Saya berusaha menunjukkan ketegaran saya di depan istri saya. Saya berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga saya. Sampai saat ini sebenarnya saya sangat rindu denan anak saya, ya untuk menutupi rasa rindu saya, saya sering melihat figura foto saat keluarga saya masih lengkap”, ujar pak sopir tadi, sambil terdiam aku berpikir seharusnya aku selama ini bersyukur apa yang udah orang tua kasihin ke aku, keluarga semua sayang ke aku, aku ga bisa bayangin gimana jadinya kalau keluargaku jadi seperti itu .

Udah cukup lama ngobrol –ngobrol, akhirnya aku sampe juga di depan rumah, sambil mengucapkan terimaksih aku juga ga lupa buat bayar angkotnya. Hahaha…

 

Hadiah Untuk Ayah

 

Karya: Salma Farah Nabila

Siswi kelas 5 Utsman bin Affan SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 purwokerto

Ayahku…

Tak ada hari seperti hari ibu

Sedikit waktu untuk menemaniku

Selalu sibuk dengan pekerjaanmu

Tetapi engkau tak pernah lupa dengan keluargamu

Ayahku…

Ini adalah sebuah hadiah

Hadiah kecil dariku untuk ayah

Yang selalu memberi kami nafkah

Tanpa kau kenal kata lelah

Aku sayang padamu, Ayah

Imla’ Qolbiy l Quran!

Manusia adalah makhluk yang tak lepas dari kesalahan dan khilaf. Di tiap geraknya dan nafasnya,sengaja maupun tak sengaja ia tentulah pernah melakukan salah. Bahkan tidak hanya pernah,melainkan sangat amat sering. Tidak bisa dihindari .Namun begitu, kehati-hatian agar tidak banyak melakukan salah tetaplah harus dipunyai tiap pribadi manusia,sebagai kontrol  diri agar tidak melampaui batas. Sehingga kita bukan termasuk orang-orang yang tidak disukai Allah SWT.

Lain halnya dengan Rosulullah,ia manusia namun terjaga dari kesalahan yang fatal,karena Allah akan secara langsung memperingatkan Rosul dan membenarkan kekhilafannya. Ini yang kita paham sebagai  Rosul sebagai manusia yang ma’shuum. Dalam surat  ‘abasa ,dikisahkan pada saat itu Rosul yang juga manusia biasa- melakukan kesalahan terhadap seorang buta yang tengah meminta tolong untuk bertaubat dan masuk Islam akan tetapi Rosul lebih menghiraukan para pemuka suku yang tengah mengajaknya berbincang. Hal ini tidak dibiarkan begitu saja oleh Allah. Diutuslah malaikat Jibril untuk menyampaikan peringatan dari Allah akan kekhilafannya. Sehingga termaktublah peristiwa tersebut dalam al Quran dan menjadi pelajaran berharga bagi orang-orang yang berpikir dan mau mengambil hikmah dari peristiwa ini.

Karena kita bukanlah seperti Rosul ,manusia yang ma’shuum ,maka menjadi tidak mungkin tidak kita bisa benar-benar bersih dari kesalahan-kesalahan . yang mana kesalahan-kesalahan tesebut ibarat debu atau karat yang menempel di cermin,begitulah keadaan hati kita. Apa jadinya bila hati kita kotor oleh bertumpuk-tumpuk kesalahan dan kesalahan yang tak henti-hentinya kita lakukan?

Imam Ghozali menerangkan bahwasanya hati layaknya cermin, bila di atasnya terdapat noda maka  tidak akan dapat berfungsi dengan sempurna sebagai mana mestinya. Hukum ini  berlaku bagi hati-hati manusia. Beberapa hal yang menyebabkan cermin tidak berfungsi dengan sempurna dan tercegahnya penampakan bayangan  antara lain karena ;

–          Kerusakan bentuk cermin,yaitu sebelum dibentuk dan dikilapkan.

–          Kotoran dan karat

–          Dipalingkan dari arah gambar sehingga gambar berada di belakang cermin

–          Penghalang yang berada di antara cermin dan gambar

–          Ketidaktahuan arah tempat gambar.

Demikian pula , dalam perumpamaannya hati sebagaimana cermin dan perumpamaan hakikat adalah sebagaimana gambar pada cermin,maka  tercegahnya hakikat sehingga hati tidak dapat melihat dan menemukannya adalah sama,disebabkan beberapa hal ;

–          Kekurangan pada hati itu sendiri.

–          Adanya kotoran kemaksiatan dan kekejian yang bertumpuk pada permukaan hati disebabkan banyaknya syahwat.

–          Disimpangkannya hati dari arah hakikat yang dicari.

–          Adanya tabir

–          Adanya ketidaktahuan terhadap arah yang dikehendaki.

Sehingga pertanyaan selanjutnya yang mesti kita cari jawabannya adalah,bagaimana caranya agar kita bisa membersihkan noda-noda yang menutupi dan menyelimuti hati kita sehingga segala hakikat dapat dilihat dengan jelas dan arah hidup menjadi terang untuk kita tuju? Jawabannya Al Quran. Al Quran dalam fungsinya sebagai  obat hati sekaligus pembersih hati merupakan pilihan tepat yang dapat sangat membantu usaha kita dalam menjernihkan hati.

Esensi dari pembahasan kita mengenai hal ini adalah bahwa al Quran  mampu menciptakan taghyiir l quluub atau perubahan jiwa/hati.  Al Quran menjadi kekuatan hebat yang secara khusus dirancang oleh Allah untuk menata  dan membangun kembali  jiwa-jiwa yang tengah sakit dan butuh terapi. Sebagaimana generasi pertama yakni para sahabat,tabi’in dan tabi’i t taabi’in. Mereka adalah hasil dari pendidikan qurani. Hati mereka yang tadinya keras menjadi lembut  dengan bimbingan alQuran,hati yang awalnya liar menjadi jinak terhadap kemaslahatan ummat.

Subhaanallah ..betapa Allah mengasihi kita,menyayangi kita sehingga kita dapat mengenal Islam dan mempelajari al Quran. Betapa beruntungnya kita karena mendapat petunjuk dan penerang di tengah kegelapan dan kesemrawutan hidup dan dunia yang menipu. Maka ayat dalam surat ar Rahman mengingatkan kita bahwa,

فَبِأي الاء رَبِّكُماَ تُكذبانِ

Yang artinya,

maka nikmat dari Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan..( QS.Ar Rahmaan)

Bersama-sama marilah kita berusaha membenahi segala ketidaksempurnaan diri kita agar lebih baik,lebih mawas diri terhadap segala kemaksiatan,lebih menjaga hati kita agar dapat menerima petunjuk dari Allah sehingga kita mampu melihat hakikat yang sebenarnya. Wallahu a’lam bis showaab. ^_^

Sumber tulisan; buku seri pengobat hati,Mengarungi Kedamaian Samudra Al Quran,Muhammad Zaairul Haq,juni 2011. (thanks for your giving, Akhi fillah)

Nabi Dawud Alaihi s Salaam

 

 

Nabi Dawud adalah termasuk nabi Bani Isroil dari anak cucu Yahuda putra Nabi Yaqub a.s. beliau diberikan anugerah oleh Allah sebagai seorang nabi dan seorang raja sesudah thaluut.

kisah nabi Dawud bermula dari ketidaktaatan kaum Bani Israel kepada perintah pemimpinnya,yakni nabi Musa. Ketika nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk berperang memasuki Kan’an atau Palestina, mereka menolak. Sehingga Allah memberikan hukuman kepada Kaum Bani Israil, yakni terperangkap di gurun Sinai selama empat puluh tahun. Setelah kerajaan Nabi Musa berakhir, kepemimpinan berganti dan jadilah bani Israil dipimpin oleh Yasyu, Yusya’, yang berhasil memimpin dan menaklukan daerah sekitar Amaliqoh, Madyan, Aram dan lainnya, memimpin memasuki palestina. Setelah yusya’ dan para pemimpin lainnya meninggal dunia, mereka terpecah-pecah, tertimpa banyak masalah dan melupakan ajaran Taurat. Alhasil, ketika terjadi perang kembali dengan orang palestina, yng dipimpin oleh Jalut, Bani Israel mengalami kekalahan yang menghinakan; wanita dan anak cucu mereka dihinakan dan peti yang berisi catatan Taurat juga dirampas dibawa ke rumah Dajon, tuhan dari orang Palestina.

Dalam situasi kritis tersebut, Bani Israel meminta pada orang paling shaleh di antara mereka, Nabi Syamuil untuk diangkatkan bagi mereka seorang raja yang dapat memimpin perang dan mengembalikan lagi kehormatan Bani Israel. Jawaban dari Nabi Syamuil adalah sebuah sindiran, yang tercatat dalam al Baqoroh;246 yang berbunyi: adalah mungkin sekali kalian akan mundur diri, ketika kalian diajak berperang, persis seperti dahulu di era Musa.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلإ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (البقرة 246)

Artinya:

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israel sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang lalim

Setelah muhadatsah tersebut, akhirnya disampaikan kepada mereka seorang pemimpin bernama Thalut, untuk menyatukan mereka. Tahlut adalah keturunan Bunyamin adik yusuf. Bani Israel menentangnya, karena raja-raja Bani Israel sebelumnya adalah dari kalangan atau keturunan terhormat. Sebab, raja-raja Bani Israel umumnya adalah keturunan Yahudza, sedangkan nabi-nabi keturunan Lawi. Selain itu, Thalut juga seorang miskin sehingga hal itu menambah Bani Israel tidak menghormati Thalut, karena bagi mereka kekayaan adalah ukuran keutamaan dan kemuliaan.

Menjawab pertentangan Bani Israel, Nabi Syamuil berkata, “ Thalut memiliki jiwa kepemimpinan dan pengetahuan, sehingga ia layak menjadi pemimpin”. Oleh karena itu, Thalut tetap diangkat sebagai panglima, yang akan memimpin mereka merebut kembali peninggalan Musa dan Harun, seperti sabak-sabak (lembaran-lembaran) berisi ajaran Allah Ta’aala. Sebagaimana tercantum dalam surat al Baqoroh ayat 247-248;

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 1 وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ( البقرة 247-248)

Artinya:

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.)247) Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh Malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman (248)

Thalut pun akhirnya memimpin Bani Israel untuk berperang, namun terbukti sebagian Bani israel mengingkarinya, dan hanya sebagian yang menyertainya. Dengan alasan, karena takut dengan orang palestina yang masyhur namanya sebagai figur perkasa, terlebih dipimpin oleh orang yang kuat bernama Jalut, yang terkenal keji, kejam dan tak berperi kemanusiaan. Namun begitu, Thalut dan sedikit pengikutnya itu tetap maju untuk berperang, melewati perjalanan yang panjang melalui pegunungan dan padang pasir gersang.

Ketika melewati sungai, Thalut berpesan kepada prajuritnya agar tidak meminum air sungai dengan berlebihan, karena akan mengakibatkan kekembungan. Ternyata benar, dalam surat ayat selanjutnya, yaitu ayat 249 sampai dengan 251 disebutkan;

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِ ينَ< وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ> فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

Artinya:

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”(249) Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdo`a: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.(250) Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.(251)

Pada peperangan tersebut, Thalut diberi kemenangan oleh Allah melalui seorang tentara muda yang perkasa, bernama Daud, yang berhasil mengalahkan Jalut. Sepeninggal Thalut inilah, akhirnya Daud diangkat menjadi pengganti Thalut sebagai Raja dan Nabi.

Dalam sebagian sumber disebutkan bahwa Nabi Daud membagi hari-harinya menjadi empat alokasi; Sehari untuk beribadah kepada Allah, sehari untuk mengadili dan mengurusi perkara, sehari untuk memberi pengajaran, dan sehari lagi untuk memenuhi hajat dan kepentingan pribadi dan keluarga. 

Nabi Daud diberikan mujizat oleh Allah memiliki suara yang merdu dan enak didengarkan baik manusia, jin, burung-burung, gunung, Angin serta daun-daun. Mereka senang mendengarkan suaranya. Di samping itu Allah juga menganugerahkannya kekuatan pada tangannya, yakni bila memegang besi, besi itu akan lunak, dan membuatnya menjadi bermacam-macam keperluan tanpa dipanaskan dengan api. Ia pun dapat melakukan segala sesuatunya dengan adil dan bijaksana, sehingga umatnya merasa puas dengan segala yang diputuskan.

إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالإشْرَاقِوَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌوَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ( ص~18-20)

Artinya:

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan (Q.S. Shaad;18-20)