Eureka!…..

Sebuah kemajuan dalam segala lini kehidupan berawal dari perjuangan yang tak sederhana. Menghadapi aral melintang bak duri-duri di setapak jalan kita melangkah. Sebuah penggambaran yang berlebihan memang, namun terkadang demikian adanya. Adanya yang lain adalah akan lebih indah perjuangan itu dirasa karena tantangan yang dihadapi dinikmati sebagaimana ia menjalani berbagai tahapan ujian untuk meraih sertivikasi maupun kenaikan jabatan, atau juga seperti anak lulusan SMA yang akan menghadapi ujian masuk kuliah dan mereka menjalaninya sebagai sensasi yang penuh kesenangan, seakan di depan mereka ada banyak pengalaman ‘seru’..yang akan menjadikan mereka berkata ‘keren’.

Hanya sebuah komentar simpel merespon karunia kahuripan penuh ‘nano-nano’…

Semacam hari ini…ada beberapa agenda yang aku rasa-rasai sebagai ‘sensasi nano-nano-‘; melatih lomba menulis cerpen( yang belum pernah aku pahami betu bagaimana tekinsnya), dan satunya lagi UAS menuju semester 5.. mudah-mudahan diridhoiNya…sebuah tantangan menuju kemajuan (amin). Ada tujuan yang ingin diraih dan motivasi menjalaninya sebaik mungkin, walau apa daya yang kupunya sebatas makhluk lemah. Yang diyakini hanya ‘يقيني بالله يقيني’….keyakinanku pada Allah menjagaku. Menjaga bahwa semua dapat dilalui, dapat dilewati; mau sesuai harapan atau pun tidak..itu sudah yang terbaik.

SUKSES UNTUK SEMUA, SEMUA UNTUK SUKSES..FID DUNYAA WAL AAKHIROH (AMIIN)

 

Iklan

Aku Merindu…

Gerimis menetes perlahan,

perlahan menjadi guyuran hujan….

memanggil kalbu membuka jendela,

inginkan dapat melihat rinai yang menyejukkan. 

Masih ingatkah berapa lama telah terpisah?

bukan pada orang yang disayang rindu ini mengembang..

tapi,..pada Cinta Robbku ingin kusampaikan,

hantarkan aku pada RamadhanMu…ya Robb.

Penantian panjang tetap kulakukan,

menunggu saatnya dapat lebih mendekatkan,

jiwa yang ternoda ingin bersua..

pada Allah yang Maha mensucikan dosa.

Ramadhan…

seharipun terasa lama, menunggui tiba saatnya,

segala hikmah pelajaran Ia bahasakan pada hamba..

Allah, hantarkan aku pada RamadhanMu,

sediakah Engkau hapuskan dosaku..

Mirip Nggak Mirip

Karya: Khanza Saidatina

Siswi kelas 3 Discipline SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01

Arysad dan Ilham berjalan-jalan di dekat pasar. Seorang anak lelaki seusia mereka tiba-tiba menghampiri mereka. anak laki-laki itu lalu meperhatikan wajah Arsyad.

“ada apa sih?”, tanya Arsyad yang merasa risih diperhatikan seperti itu. Diitatapnya wajah anak itu dengan keheranan.

“Kamu..ehm..pasti adiknya Raffi Ahmad, bintang sinetron terkenal itu, ya?”, kata si anak lelaki. Dia memandangi lekat-lekat wajah Arsyad, “ Benar, kamu pasti adiknya Raffi Ahmad ! iya kan??!”.

Arysad seketika menggelengkan kepala. “ Tidak!”, katanya tegas. “ Aku bukan adiknya Raffi Ahmad”.

“Bukan??”, si anak laki-laki tampak keheranan.” Ngga usah bohong gitu, deh. Kamu pasti adiknya Rffi Ahmad, iya kan? Ngaku aja..”.

“ Bukan”, kata Arsyad lagi. “ Kamu bagaimana sih??! Aku sudah bilang aku bukan adiknya Raffi Ahmad, tapi kamu malah ngotot begitu. Kenapa kamu ngga percaya sih?”.

“ Ngga usah bohong”, balas si anak laki-laki. Tetap dengan sangkannya.

“ Kalau iya, aku ngga ngapa-ngapain kok. Pliiis…kamu adiknya Raffi Ahmad kan, Ihhh…”.

“ Aku bukan adiknya Raffi Ahmad…permisi ya, kita harus pergi. yuk, Ilham… kita kan sedang diminta ibu membeli tomat ”.

Catatan Perjalanan : Dian Nafi’ (Level V Utsman


Catatan Perjalanan :
Dian Nafi’ (Level V Utsman bin Affan SD IT Al-Irsyad 01 Purwokerto)

25 – 26 Desember 2012

Sore itu bapak menegurku “ayo cepat lari terus…. mendaki Gunung Merapi membutuhkan fisik yang kuat”. Akhirnya aku teruskan berlari untuk persiapan mendaki. Kadang aku lari muter di GOR Satria, kadang lari dari Purwokerto ke Purbalingga dan kalau capek banget berhenti dulu. Tapi aku sudah terbiasa latihan fisik seperti di klub bulutangkis sebelumnya. Aku dibelikan sepatu gunung dan pelindung kaki (gaitter) lewat internet, ketika barangnya datang aku senang sekali. Aku pakai dan lihat di cermin, tidak lupa pakai tas punggung dan topi, seperti seorang pendaki cilik. Pada tanggal 25 Desember sebanyak 6 orang dengan teman-teman bapaku mulai berangkat dari Purwokerto jam 09.00 pagi, lewat Banjarnegara dan Magelang. Sepanjang jalan pemandangannya bagus sekali, akhirnya aku sampai di Selo Kabupaten Boyolali. Disitu adalah desa terakhir di kaki gunung Merapi.
Sebelum naik gunung harus mendaftar dulu di Pos jaga dan mempersiapkan alat mendaki, diantaranya adalah tenda dome, ransel, topi, jaket, tali, pisau, HT, kantong tidur, alat masak, makanan, air dll. Aku mulai mendaki dari Base Camp jan 23.30 dengan melalui ladang penduduk, kemudian masuk hutan. Jalannya susah sempit dan menanjak. Cuaca malam itu cerah sekali, kelihatan bintang-bintang di langit gelap. Dari atas tampak hamparan lampu-lampu kota Solo, Boyolali, Magelang dan Salatiga.
Jam 04.45 sudah mulai kelihatan warna merah dari arah Timur, tidak lama kemudian mulai muncul sinar matahari terbit (sun rise). Sholat subuhnya sambil duduk di batu dan dengan bertayamum. Pada jam itu sangat dingin sehingga membuat perapian untuk menghangatkan badan dengan kayu-kayu yang ada di sekitarnya. Setelah itu istirahat sejenak membuat mie instan, susu coklat dan makan roti. Bapak juga bawa buah apel kesukaanku, dikupasin lagi.
Perjalanan dilanjutkan melewati rumput dan tumbuhan kecil (perdu, sabana) sampai ke batas vegetasi (batas antara tumbuhan terakhir dengan pasir bebatuan). Disitulah bapak mengajak untuk berdoa di “In Memorium” para pendaki yang telah gugur di Gunung paling aktif di dunia. Sedih rasanya, jadi ingin menangis. Tampak jelas lereng yang sangat curam menuju kawah Merapi di puncak. Pasir dan batu-batu kecil sampai besar yang gampang lepas. Perjalanan ini butuh waktu lama karena harus hat-hati dan semua pendaki berpencar agar tidak kena batu dari pendaki lain di atasnya.
Akhirnya sampai juga di puncak Gunung Merapi yang tadi pagi kelihatan cerah. Pada saat jam . 09.40 kabut dan bau gas belerang yang sangat menyengat sehingga bapak memutuskan hanya 10 menit di puncak. Indah sekali.. mengerikan, luas…. Allah SWT Maha Pencipta dan Maha Agung.
Kemudian semua turun dengan fisik yang sudah lunglai, sampai di Base Camp pendakian jam 15.00 sore. Di base camp sudah ada makan telur goreng, kerupuk dan sayur tempe, tapi nikmatnya luar biasa tidak seperti makan di rumah. Terasa sangat lelah, dingin.. tapi puas.. melihat dari dekat kawah Merapi. Gunung yang banyak merenggut korban jiwa saat terjadi letusan dan awan panas. Bukti kebesaran-Mu ya Allah.
Akhirnya semua tertidur pulas, jam 12.00 malam semua dibangunkan bapak dan saatnya pulang ke Purwokerto. Selamat tinggal Merapi yang cantik… esok lusa aku datang lagi. Aku selalu merindukanmu.
Banyak pelajaran yang diambil dalam pendakian menuju Puncak Merapi ini. Harus sabar, harus bisa bekerjasama dengan yang lain, kuat fisik, harus berani dan semangat. Tidak lupa selalu mengingat Allah dalam setiap langkah, keagungan keindahan kesempurnaan….. Allah karunia dan rakhmat-Mu juga yang akan mengiringi kami.

النبأ
(BERITA BESAR)
Surat ke 78 : 40 ayat

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا
6. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?,
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
7. dan gunung-gunung sebagai pasak?,
وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا

Foto Dokumentasi :

Santai di Base Camp sebelum mendaki Istirahat sejenak dalam perjalanan

Nafi minta dikupasin apel Berdoa di “In Memorium” smoga diterima di sisi Allah SWT.

Hi hi… ada pendaki dari Italia Lanjuuutt!!! Semangat……semangaaaatt

Medan berpasir dan batuan lepas Medan berpasir dan batuan lepas
Dengan kemiringan ± 45º Dengan kemiringan ± 45º

Medan batuan yang terjal dan berkabut Matahari mulai bersinar… hangaaat

Di bibir kawah puncak Merapi Bye bye Merapi…….. suatu saat aku datang lagi

Latar belakang adalah Gunung Merbabu

Walaupun aku anak yang manja.. tapi harus berani