Kisah Sang Dewi

Bukan kaki ini lelah berdiri

atau raga tak berdaya menahan lara

bukan karena perih berkali-kali luka

dan darah serupa warna gincu menganak sungai

di mata yang telah gelap

tak mampu menembus angin dengan cahya

namun pengharapan telah sirna

di tengah samudera nan gagah perkasa

sang tawanan ingin bermandi ria

menggosok bekas-bekas luka

noda-noda kotor yang dibawanya dari istana dewa pemuja cinta

demi bebasnya hati dari jeruji rayuan rahwana

dan kembali sucinya gadis meski ternoda

 

 

Iklan

Surat Layang Untuk Sang Awan

siluet 1seindah keanggunan yang memesonakan di awang-awang angan
hamparan biru menjagamu tetap nyaman di mimbar keagungan
rona jingga menjadi kawan
bersama matahari sang pemancar kebahagiaan.
 
tahukah kau?
seandainya tubuh ini tidak terjerat di bawah akar pohon
seandainya tubuh ini tidak terkubur dalam makam kosong
mungkin aku akan melesat
menuju  singgasanamu di atas sana.
 
tahukah kau?
hanya hujan darimu yang menyejukkan keringnya tanahku ini
dahaga sesaat kan sembuh
 sesaat kembali gersang
sesaat sembuh
sesaat kembali gersang
terus..demikian
hingga sesaat….diam.
tanpa gerak.tanpa suara.
Bungkam dalam diam selamanya

Sajak Ditelan Ombak

By FADHLIL MU’ID
jam.jpg
Sajak-sajak pasir mulai mempercundangiku
Goresan dan baitnya mengaburkan pandangan hati
Merusak system penataan diri
Berhasrat menyayat sang martabat

Gusti, bilamana janjimu berlaku?
Aku kepayahan mendendang cinta
Atau kulepas saja?

Namun, ombak kearifan berhasil menelanku,
mencabik-cabik keseluruhanku
hingga berpaling membisu
memuntahkanku pada keyakinan baru

“ Kita mulai dari awal” kataku
Tanpa sebatang keakuan
Tanpa rerimbunan malang