Aku Ingin Pulang…

jam.jpg

Terlalu lama hidup di dunia. Itu yang kurasakan sekarang. Aku harapkan pertemuan itu. Saat dapat lebih dekat denganNya. Saat tidak ada hijab bersamaNya. Saat tubuh bukan lagi menjadi wadah. Dunia bukan lagi menjadi tempat berkelana.

Ya! Aku bukanlah petani yang baik. Sawah yang Ia berikan tak mampu kugarap dengan baik. bukan memanen buah kebaikan, justru banyak dosa yang kutanam. Aku bukan menyerah. Namun, aku memang takut bahwa semakin lama ia titipkan umur ini, maka semakin tersesat pula aku di dunia. Semakin kelam pula catatanku di hadapanNya. Salahkah jika aku mengingini pertemuan itu?

siluet 1

Sungguh, oh sungguh, aku belum miliki secuil modal pun tuk tinggal di sana. Hanya dosa-dosa yang menumpuk yang bertambah setiap waktunya tanpa kupinta. Begitu ringan dan nikmat dosa-dosa itu merupa di mataku. Sampai..jilbab yang kukenakan pun tak lagi suci. Tak lagi pantas kupakai untuk menghadapNya.

Aku, jilbab yang ternoda. Tak mampu kubersihkan, tak mampu kuhapuskan. Ya Allah…akankah Engkau menerimaku di sana? Untuk dekat denganMu, untuk bersimpuh di hadapMu. Aku ingin kembali pada jalanMu.. betapa jauhnya aku melangkah dari kebenaran. Tersesat pada jalan kegelapan. Menyerupa menjadi hamba yang durhaka. Sesekali aku melangkah, aku teringat akan ancamanMu, namun bisikan dosa itu melumpuhkan hatiku, melumpuhkan kakiku. Iman di dada ini ..oh, betapa aku lemah. Bimbing aku ya Allah, tuntun aku..yang tertatih untuk kembali.

Ya Allah, ..aku jilbab yang ternoda. Kehilangan arah karena bejibun dosa. Melipur duka namun semakin lara. Menghendaki pulang pada keharibaanMu Yang Maha Sayang. Mengharapkan cintaMu untuk setetes ampunan.

Inniy dzolamtu nafsiy..

inniy dzolamtu nafsiy..

Inniy dzolamtu nafsiy dzulman katsiroo..

faghfirliy ya Robbiy..

lastu lil firdausi ahlaa,

wa laa aqwaa ‘alan naari l jahiimi…

Allah..dekap aku sekarang. Aku takut menjadi jiwa yang tak terselamatkan. Hilang. Karam di tengah samudera kenistaan. Jatuh pada kedalaman jurang kealpaan iman. Apa saat maut menjemput aku kan dalam islam? Kuharapkan penyelamatanMu, tuntunanMu, bimbinganMu.

lonli

Saat nanti aku dibangkitkan, apakah semua orang di maydan akan memandangku heran? Karena rupaku yang bukan-bukan. Aku tak inginkan yang demikian. Dekap aku sekarang, ya Allah. Matikan aku jika umur ini semakin menjerumuskanku, semakin menjadikan aku berlumuran noda dosa.

Mengapa hanya kata yang mampu kupintal perlahan, mengapa hanya dosa yang mudah tergoreskan. Seperti cemeti yang mewujud layaknya kipas..mengelabui, menipu diri. Adakah ampunan yang sedia Engkau berikan, ya Allah? Aku tak layak pinta kan itu..tak layak, teramat tak layak.

Allahumma j’alil hayaata ziyadatan fi kulli khoir..

Waj’ali l mauta roohatan min kulli syarr..

ya Allah, Jadikanlah hidupku sebagai penambah amal baikku..

Dan jadikanlah matiku sebagai perhentian dari segala keburukan dan dosaku

 

Sendiri, 23 februari 2013

11:46

 

 

Ning, Murnikan Hatimu!

wudhu

Rindu merabai dinding-dinding rongga dadaku. Menusuk relung hati yang dingin menjadi lebih lara. Merobohkan benteng perlindungan rasa yang kubangun sejak aku berikrar dalam hati sendiri bahwa mahabbahku takkan kutanamkan pada seorang pun kecuali pada ia yang mengikrarkan janjinya di depanNya, di depan kedua orangtuaku, di hadapan penghulu untuk memimpinku, membimbingku. Membodohkan kewarasan, menaklukkan ketangguhan. Demikian hasrat yang menyeruak perlahan namun pasti. Indah nian. Namun, tetap menyakitkan.

Surat Al Ikhlas kubaca berulang. Aku mengeja makna dari tiap ayatnya. Sebagaimana yang bapak pernah ajarkan di suatu malam panjang. Tentang keikhlasan. Harapku, dengan cara ini, aku semakin kokoh dengan kesucian cintaku padaNya.

Bismillahirrahmaanirrahiim, qul huwa Allahu ahad; katakan bahwa Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Esa. Satu,” samar suara bapak dalam ingatanku.

Terdiam, aku mencari kembali ‘keikhlasan’ dalam hati untuk benar-benar mengesakanNya Yang Esa. Dengan syahadat yang pernah kuucap. Asyhadu al laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammada r rosuulullah..aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad utusan Allah.

Keikhlasan, ikhlas berasal dari bahasa Arab yang kutahu memiliki arti ‘kemurnian’. Hati yang murni untuk mengabdi pada Yang Esa.

Sekali itu, aku menyadari. Betapa selama ini aku jauh dariNya. Berlalu segala waktu dengan kesibukan yang runyam tanpa aku menyertakan Dia yang menjadi satu-satunya Maha Kuasa akan  segala urusan hambaNya. Karena itulah, ya, karena itulah aku lelah. Hati ini, pikiran ini. Mengurusi segala tetek bengek hidup dengan kemampuan manusiawi yang terbatas. Bukan. Sekali-kali bukan ini yang mestinya kulakukan. Ada Allah di belakangku; yang siap sedia memberikan pertolonganNya, yang menggantikan keterbatasan manusiawiku dengan rahmatNya.

Allahu s shomad; Allah-lah –satu-satunya- tempat bergantung, sandaran, tempat bersandar,”

Sudahkan kamu gantung-sandarkan segala perkara padaNya? Demikian kata bapak. Aku jawab -saat itu- belum. Aku terlena materi duniawi yang menipuku untuk lebih banyak menggantungkan hajatku pada apapun, siapapun. Aku melupakanNya. Astaghfirullah..bahkan aku seringkali –sepenuhnya- berkeyakinan bahwa cita-citaku akan tercapai dengan kemampuanku sendiri. Kepercayaan-diriku sesungguhnya memberatkan. Keinginanku, egoku kudahulukan ketimbang sadarku akan kehendakNya yang paling utama. Aku mendahului takdir. Mendahului kehendakNya. Sombong di hadapanNya. Maka, itu dapat menjadi musibah besar manakala segala yang kau inginkan tak tercapai. Kamu akan mudah putus asa dan patah semangat. Jelas bapak lagi. Masih dalam damainya ingatanku saat duduk bersamanya.

Cinta macam apa jika aku menomorduakan cintaku padaNya setelah nafsuku pada keinginanku sendiri. Benar saja, jika apa yang kuinginkan begitu sulit untuk kugapai. Karena Allah ‘cemburu’. Ia dapati cinta hambaNya tak murni kembali. Maka, Ia jadikan cita-cita itu tertunda agar si hamba sadar akan kesalahannya, sampai ia kembali pada ‘keikhlasan’.

Pada akhirnya, aku pun sadar. Sadar bahwa Allah-lah satu-satunya yang paling tahu apa yang terbaik bagiku. Maka, pada kehendakNya kupasrahkan untuk mengarahkan segala gerakku. Biarlah aku berusaha, berjuang. Selanjutnya, Allah yang mengarahkanku ke arah manapun yang terbaik untukku menurutNya. Bahkan tentang nafsuku merindui makhluk yang belum pula menjadi imamku. Aku telah salah. Mengapa aku merinduinya sementara rinduku pada Allah belum sempurna kutunaikan? Mengapa dalam benakku aku ingin bersandar pada pundaknya, sementara Allah-lah yang sejatinya menjadi satu-satunya tempatku bersandar? Setiap waktu yang terlewat dan tiap nafas yang kuhela, seringkali aku lebih banyak ‘berdzikir’ mengingat namanya, sementara namaNya aku sedikit sekali ingat. Sedikit sekali kudzikirkan. Ya Allah…inni dzolamtu nafsiy, robbiy ighfir liy..

Lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakun lahuu kufuwan ahad. Dia tiada beranak, tiada pula diperanakkan. Serta tak ada sesiapapun, atau apapun yang setara dengan Dia.”

Pantaskah jika seorang hamba menyanjung nama seseorang padahal ada Allah yang lebih pantas dan wajib untuk disanjung dan dipuji, didzikirkan sepanjang waktu? Bukan karena Ia membutuhkan hamba untuk beribadah padaNya. Namun, justru karena hamba tak mampu lepas dariNya. Dalam seluruh hal, hamba membutuhkanNya. Karena kesalahanku inilah aku menjadi begitu jauh dariNya. Ya Robbiy, aku ingin kembali. Bimbing aku kembali pada jalanMu..

Kututup al Quranku. Menengok kembali isi hati yang sebelumnya tak tentram. Ada sejuk yang kurasakan. Kedamaian yang sempat hilang. Kedekatan yang sempat renggang. Merapat mendekat kembali pada Allah, putusku kemudian. Untuk memberi terapi hati. Alangkah indahnya jika cinta karena Allah sudah tiba pada waktunya…

Purwokerto, 21:50

08 Februari 2014

Dalam Ruang Hening Bening

 

Cooperative teach as a team in learning proccess

Cooperative teach as a team in learning proccess

By : Niam gema saputra

 

Social aspect is an important in learning process, and we can to apply and teach it when we use cooperative learning.

Social interdependence theory underlies some of the most widely used cooperative learning procedures (Johnson & Johnson 2002). Social interdependence theory has been validated by hundreds of research studies (Johnson & Johnson 1974, 1989, 2005), a cooperative learning which content about as a team in all proceess. Practical procedures have been operationalized from social interdependence theory at the classroom (i.e., the teacher’s role in structuring cooperative learning) and school (i.e., leading the cooperative school) levels (Johnson & Johnson 1999, 1994). This relationship among theory, research, and practice makes cooperative learning so unique in use.     

 

The crucial importance of peer group experience for the development of children’s co-operative skills, as well as for their social and moral development in general, has long been emphasized by prominent developmental theorist  (Dewey 1900; Piaget 1932/1965; Sulivan 1953;Vygotsky 1978; Youniss 1980).  Consistent with the educational theories of both Piaget and Vygotsky, young children benefit socially and morally from their interactions with peers (Piaget 1932/1965; Vygotsky 1978).

Cooperative learning teach how student can to debate,and discussion as process to giving knowledge to the other,example for between a group with the other group.

When cooperative groups function well, it can make children learn from one another, and come to like and  respect one another, yet at the same time they learn to themselves and to explain the reason for their opinions. All group members deepen their understanding of what it means to collaborate, negotiate, and compromise to achieve fairness for everyone. (Watson in Robbien Gillies & Adrian Ashman)

Cooperative learning not anly a technique of teaching to increase students achievement but also form a way to create cheerful, the environment that pro-social in classroom.

The studies and reviews by Johnson et al. (1983), Johnson and Johnson (1985), Slavin (1989) and Sharan (1980) confirm co-operative learning as an effective teaching strategy that can be used to enhance achievement and socialization among students and contribute to improved attitudes towards learning and working with others, including developing a better understanding of children from diverse cultural backgrounds. However, while co-operative learning gained acceptance as a strategy for promoting

positive academic, social and attitudinal outcomes, researchers at the time were still debating how the different methods influenced academic achievement.

Co-operative learning activities can provide young children with opportunities to develop not only their social and emotional skills, but also responsibility for their social environment, and to feel a personal commitment to the rules that are necessary for positive social relationships.

Positive social relationships among students and between students and faculty, the lower the absenteeism and dropout rates and the greater the commitment to group goals, feelings of personal responsibility to the group, willingness to take on difficult

tasks, motivation and persistence in working toward goal achievement, satisfaction and morale, willingness to endure pain and frustration on behalf of the group, willingness to defend the group against external criticism or attack, willingness to listen to and be influenced by colleagues, commitment to each other’s professional growth and success, and productivity (Johnson & Johnson 2006).

In their studies on the long-term implementation of cooperative teams, Lew and Mesch (Lew et al. 1986a, b; Mesch et al. 1986, 1993) found that the combination  of positive goal interdependence, a contingency for high performance by all group members, and a social skills contingency, promoted the highest achievement and productivity. Thus, the more socially skillful participants are, the more social skills are taught and rewarded, and the more individual feedback participants receive on their use of the skills, the higher tends to be the achievement and productivity in cooperative groups. Putnam et al. (1989) demonstrated that, when participants were taught social skills, observed, and given individual feedback as to how frequently they engaged in the skills, their relationships became more positive.

For example, Vaughan (1996) introduced co-operative learning into a classroom environment characterized by disrespect, unfairness and intolerance between 5- to 7-year-old boys and girls. She found that co-operative learning resulted in more collaboration, less competitive behaviour, improved communication skills, better tolerance and respect for others, improved self-esteem, and a more positive and productive classroom in general. However, such positive outcomes are not a certainty. Howes and Ritchie (2002) found that for successful co-operative learning, the classroom needed to be a safe place for all students, the children needed to possess the social skills required by the activity, and the children needed to have a collaborative and trusting relationship with the teacher. Similar conclusions were reached by Rheta Devries and her colleagues from their extensive research on children in constructivist preschools (see Devries and Zan 1994). That is, young children are capable of effective cooperation if the teacher can to drive them and mix them, and has a positive and personal relationship with students. Class will so fun and I sure student can enjoy the procees.

Using cooperative leaning to teach in the classroom is selection. It prepare ideal solution about give occasion problem to interact as cooperative and not shallow for the students from different etnic. Methods of cooperative learning delete differencies from the different etnic background to increase relationship. Work together is pressed through appreciation and tasks in classroom.

All of these indicate that the social aspect as similarity in class as team can to giving more learning about respect,and attention to other.

 

 

 

 

References

Gillies RM and Adrian F.Ashman. Cooperative Learning : The Social and Intellectual Outcomes of learning in groups.New York.

Gillies RM and Adrian F.Ashman. The taecher’s role in implementing Cooperative Leraning in the classroom..New York.

Slavin, Robert.E. 2005. Cooperative Learning : Teori, Riset, dan Praktik (terjemahan).Bandung : Nusa Media

 

Pelangi…

Pelangi..

Tidak hanya ada setelah turunnya hujan..” ^_^

Syazwina menatap kagum pemandangan langit pagi ini. Ia teringat kata-kata seseorang; tentang pelangi juga. Bahwa menurutnya, pelangi tidak hanya muncul setelah hujan turun. Lalu, ia tak menangkap makna apapun dari perkataan temannya itu. Sampai detik ini, ia masih bingung mengenai maksudnya.

Sekarang, ia merasa terlambat untuk bertanya pada sang kawan. Ia telah jauh. Bukan terpisah oleh bentangan jarak yang tak mampu ia lampaui. Tapi lebih karena…hatinya. Ya, hatinya tak lagi tertaut. Hatinya sudah tak tersentuh lagi. Surat-surat yang Syazwina kirim tak berbalas. Salahkukah?

Ia hanya berpikir, mungkin perasaan kawannya (yang ia kasihi dan pernah mengasihinya) seumpama pelangi. Begitu indah…dan akan segera menghilang. Akan memudar secara perlahan. Sampai akhirnya, benar-benar tak berbekas apapun.

Lalu, bagaimana dengan dirinya? ia menyimpan setiap memori dan perasaannya di dalam lubuk terdalamnya. Sampai tiada seorangpun yang menduga dan paham, bahwa ia pun mempunyai seorang yang ia suka. Namanya, kata-katanya..segala tentangnya ia simpan dengan amat sangat halus.

Ia tak bermaksud untuk berbohong atas perasaannya sendiri. Ia hanya menginginkan sakralnya peraasaan yang ia punya untuk seseorang. Cemburu, ia tak pernah menunjukkannya. Selalu nampak datar seperti dalamnya air danau yang tenang. Diam. Tak bergeming.

Pada akhirnya…seperti tidak ada apapun yang terjadi. Tidak ada. Tentang Syazwina yang menyimpan cintanya, tentang kawan yang telah jauh, tentang pelangi yang muncul tadi pagi, …

Purwokerto, 03 Februari 2014

pelangi-kolaborasi-air-hujan-dan-matahari-dalam-melukis-langit