Surat Cinta

Teruntuk: Calon Imamku


Bismillahirrahmaanirrahiim…

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh…

Wahai calon Imamku. Dalam diam ini kusapa engkau. Pada baitan doa yang kurangkai perlahan. Dalam kerisauan penantian yang kan tetap kuteguhkan… Kau adalah rahasia yang terindah. Karena kuyakin, pada saatnya nanti, Allah kan mempertemukan.

Wahai Calon Imamku, doaku pada Allah adalah teguhnya imanmu. Keteguhan yang melebihi karang di lautan..yang dengannya kau bawa perahu cinta kita menggapai ridhoNya, menuntunku dan anak-anak kita pada mahabbah kepadaNya, bersama-sama kita mengeja mengaji ayat-ayatNya. Yang karenanya (imanmu kepada Allah) aku tunduk dan patuh padamu. Yang karenanya pengabdianku padamu seutuhnya.

Wahai Calon Imamku, aku wanita yang jauh dari sempurna. Aku bukan yang paling baik, bukan yang paling istimewa di antara wanita-wanita muslimah. Namun, aku akan berusaha untuk menjadi baik, menjadi yang terbaik…karenanya, saat bersama kelak..tuntun aku dengan segala kebijaksanaanmu yang kau bangun dari ketaqwaan, kesabaranmu yang terlahir dari keikhlasan dan kasih sayang.

Wahai Calon Imamku, aku manusia lemah…seringkali mengungkapkan isi hati dengan air mata dan tangis, bersediakah kau pinjamkan bahumu untukku bersandar, dan tenangkan aku dengan kata-katamu yang penuh kelembutan..

Wahai Calon Imamku, terimakasih, karena iman di dadamu, kau telah menjaga hatimu, menjaga cintamu…mudah-mudahan Allah akan menjaga kita kelak dari siksa neraka dan membangunkan rumah untuk kita di surgaNya…Aamiin ya Robba l ‘aalamiin.

Wassalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh.

 

Ruang Hening Bening

23:40 / 03/06/2014

Gambar

Iklan

Ning, Murnikan Hatimu!

wudhu

Rindu merabai dinding-dinding rongga dadaku. Menusuk relung hati yang dingin menjadi lebih lara. Merobohkan benteng perlindungan rasa yang kubangun sejak aku berikrar dalam hati sendiri bahwa mahabbahku takkan kutanamkan pada seorang pun kecuali pada ia yang mengikrarkan janjinya di depanNya, di depan kedua orangtuaku, di hadapan penghulu untuk memimpinku, membimbingku. Membodohkan kewarasan, menaklukkan ketangguhan. Demikian hasrat yang menyeruak perlahan namun pasti. Indah nian. Namun, tetap menyakitkan.

Surat Al Ikhlas kubaca berulang. Aku mengeja makna dari tiap ayatnya. Sebagaimana yang bapak pernah ajarkan di suatu malam panjang. Tentang keikhlasan. Harapku, dengan cara ini, aku semakin kokoh dengan kesucian cintaku padaNya.

Bismillahirrahmaanirrahiim, qul huwa Allahu ahad; katakan bahwa Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Esa. Satu,” samar suara bapak dalam ingatanku.

Terdiam, aku mencari kembali ‘keikhlasan’ dalam hati untuk benar-benar mengesakanNya Yang Esa. Dengan syahadat yang pernah kuucap. Asyhadu al laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammada r rosuulullah..aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad utusan Allah.

Keikhlasan, ikhlas berasal dari bahasa Arab yang kutahu memiliki arti ‘kemurnian’. Hati yang murni untuk mengabdi pada Yang Esa.

Sekali itu, aku menyadari. Betapa selama ini aku jauh dariNya. Berlalu segala waktu dengan kesibukan yang runyam tanpa aku menyertakan Dia yang menjadi satu-satunya Maha Kuasa akan  segala urusan hambaNya. Karena itulah, ya, karena itulah aku lelah. Hati ini, pikiran ini. Mengurusi segala tetek bengek hidup dengan kemampuan manusiawi yang terbatas. Bukan. Sekali-kali bukan ini yang mestinya kulakukan. Ada Allah di belakangku; yang siap sedia memberikan pertolonganNya, yang menggantikan keterbatasan manusiawiku dengan rahmatNya.

Allahu s shomad; Allah-lah –satu-satunya- tempat bergantung, sandaran, tempat bersandar,”

Sudahkan kamu gantung-sandarkan segala perkara padaNya? Demikian kata bapak. Aku jawab -saat itu- belum. Aku terlena materi duniawi yang menipuku untuk lebih banyak menggantungkan hajatku pada apapun, siapapun. Aku melupakanNya. Astaghfirullah..bahkan aku seringkali –sepenuhnya- berkeyakinan bahwa cita-citaku akan tercapai dengan kemampuanku sendiri. Kepercayaan-diriku sesungguhnya memberatkan. Keinginanku, egoku kudahulukan ketimbang sadarku akan kehendakNya yang paling utama. Aku mendahului takdir. Mendahului kehendakNya. Sombong di hadapanNya. Maka, itu dapat menjadi musibah besar manakala segala yang kau inginkan tak tercapai. Kamu akan mudah putus asa dan patah semangat. Jelas bapak lagi. Masih dalam damainya ingatanku saat duduk bersamanya.

Cinta macam apa jika aku menomorduakan cintaku padaNya setelah nafsuku pada keinginanku sendiri. Benar saja, jika apa yang kuinginkan begitu sulit untuk kugapai. Karena Allah ‘cemburu’. Ia dapati cinta hambaNya tak murni kembali. Maka, Ia jadikan cita-cita itu tertunda agar si hamba sadar akan kesalahannya, sampai ia kembali pada ‘keikhlasan’.

Pada akhirnya, aku pun sadar. Sadar bahwa Allah-lah satu-satunya yang paling tahu apa yang terbaik bagiku. Maka, pada kehendakNya kupasrahkan untuk mengarahkan segala gerakku. Biarlah aku berusaha, berjuang. Selanjutnya, Allah yang mengarahkanku ke arah manapun yang terbaik untukku menurutNya. Bahkan tentang nafsuku merindui makhluk yang belum pula menjadi imamku. Aku telah salah. Mengapa aku merinduinya sementara rinduku pada Allah belum sempurna kutunaikan? Mengapa dalam benakku aku ingin bersandar pada pundaknya, sementara Allah-lah yang sejatinya menjadi satu-satunya tempatku bersandar? Setiap waktu yang terlewat dan tiap nafas yang kuhela, seringkali aku lebih banyak ‘berdzikir’ mengingat namanya, sementara namaNya aku sedikit sekali ingat. Sedikit sekali kudzikirkan. Ya Allah…inni dzolamtu nafsiy, robbiy ighfir liy..

Lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakun lahuu kufuwan ahad. Dia tiada beranak, tiada pula diperanakkan. Serta tak ada sesiapapun, atau apapun yang setara dengan Dia.”

Pantaskah jika seorang hamba menyanjung nama seseorang padahal ada Allah yang lebih pantas dan wajib untuk disanjung dan dipuji, didzikirkan sepanjang waktu? Bukan karena Ia membutuhkan hamba untuk beribadah padaNya. Namun, justru karena hamba tak mampu lepas dariNya. Dalam seluruh hal, hamba membutuhkanNya. Karena kesalahanku inilah aku menjadi begitu jauh dariNya. Ya Robbiy, aku ingin kembali. Bimbing aku kembali pada jalanMu..

Kututup al Quranku. Menengok kembali isi hati yang sebelumnya tak tentram. Ada sejuk yang kurasakan. Kedamaian yang sempat hilang. Kedekatan yang sempat renggang. Merapat mendekat kembali pada Allah, putusku kemudian. Untuk memberi terapi hati. Alangkah indahnya jika cinta karena Allah sudah tiba pada waktunya…

Purwokerto, 21:50

08 Februari 2014

Dalam Ruang Hening Bening

 

^_^ Indahnya Malam Ini…

Beberapa malam lalu, -entah bagaimana awalnya- aku dapati sebuah mimpi yang amat membahagiakan. Seperti aku lah yang paling bahagia malam itu. Tiba-tiba saja, aku menjadi seorang ibu di alam tidurku. Aku menggendong bayi yang amat tampan, wajahnya menawan dengan senyum tak pernah lepas tiap kali aku memandang matanya. Raut wajahnya putih merona. Kucium ia berulang kali. Menjadi seorang ibu muda. Aku benar-benar bahagia, meski aku sadar itu bukanlah nyata. Aku sudah jatuh cinta, sudah sayang pada ‘mereka’ yang belum hadir sebenarnya.

Mendekatiku yang tengah bercanda bersama buah hatiku, seorang ikhwan dengan jas hitam rapi muncul. Ia memanggilku dan anakku dengan lembutnya. “ De, Mas mau cium Kaka sini..”, katanya, memanggil anakku dengan ‘kaka’.

Siapa dia? Kataku dalam hati. Wajahnya tak kukenal sama sekali.  Aku baru sadar. Ialah imamku, suamiku di sini. Sebuah dunia semu yang menjadikanku sempurna. Aku tersenyum dan mengucap tasbih saat mataku terbuka. Subhaanallah… Aku menyayangi mereka, sejak saat ini. Sejak mereka telah Allah cantumkan menjadi bagian dari takdirku nanti. Allah, izinkan aku menjadi sebagaimana yang kualami dalam mimpi indah malam ini. Suatu saat nanti. Aamiin ya Robba l ‘aalamiin.

Membuka sebuah sosial media, ada tulisan penuh makna kutemukan. Menyentuh hatiku. Bismillah. Aku ingin membagikannya pada yang lain, men-share-kannya kembali. Berharap ada yang dapat turut mengambil hikmah darinya. Sebuah Akun Dakwah, Indahnya Cinta Karena Allah menuliskan;

Untukmu Calon Imamku Yg Akan Bertahta Di Hatiku

Tahukah engkau,sebenarnya hatiku menolak ketika fitrah cinta datang menyapaku karena ku tahu bahwa dia bukanlah engkau,Maka dengan semampuku,ku berusaha menjaga hati ini,agar ia tetap tak tersentuh oleh selain hati yang bukan dirimu…

Karena bagiku, Untuk apa ku buka hati ini agar terisi dengan seseorang, bila suatu saat dia belum tentu menjadi pasanganku?

Untuk apa ku membuang waktu memikirkan seseorang,bila suatu saat dia belum tentu menjadi mahramku?

Untuk apa ku membiarkan pandanganku kepada seseorang, bila suatu saat dia belum tentu menjadi kekasih halalku?

Untuk apa ku membebaskan diriku untuk menyentuh seseorang, bila suatu saat nanti dia bukan dirimu yg kelak menjadi Imamku?

Aku yang mencintaimu ini, tak kan mampu memberikanmu hati yang bekas, sedangkan Allah telah menyiapkan untukku pasangan terbaik yaitu engkau…

Meskipun, aku belum pernah tahu siapa engkau karena hanya pernikahan yang akan menyibakkan tabir..siapakah engkau yang akan dikaruniakan Allah untukku..

Tetapi hatiku ini telah belajar mencintaimu sejak dulu, karena kutahu bahwa setiap manusia telah ditentukan pasangannya ketika masih di dalam rahim ibu.

Namun naluriku mengingatimu, ketika fitrah cinta itu harus datang menggebu di masa penantianku…Oleh karenanya bersabarlah engkau dengan kesabaran yang baik dalam pencarianmu, dan jagalah pandanganmu, bila engkau tidak mampu menahan rasa cemburu ketika pandanganku tidak terpelihara kepada yang bukan mahramku..

Namun sekarang engkau bukanlah siapapun bagiku, hingga waktu di mana Allah meridhai dan kita halal bertemu , Untukmu Calon Imamku yang akan bertakhta dihatiku, sampai saat ini aku tidak tahu siapa engkau,kecuali ijab qabul telah terucap untuk menghalalkan kita bersatu…

 الّلهمّ إنّي أسأل حبّك و حبّ من يحبّك و العمل الّذي يبلّغني إلى حبّك…..

“Ya Allah, Ya Tuhanku…Kupinta kan cintaMu, kupinta cinta seorang yang mencintaimu, dan kupinta amal yang menyampaikanku pada cintaMu…Bimbing aku tuk mengabdi setia padaMu”.

 

Indahnya Cinta Karena Allah

Untukmu, Saudara- saudariku yang kan penuhi syari’atNya tunaikan Sunnah Rasul yang terindah…

“Tidak ada kalimat terindah yang pernah seorang wanita dengar kecuali saat ada seorang laki-laki menyatakan kesediaannya menanggung segala kebutuhannya, membimbingnya, menjadikannya bertahta dalam kedaulatannya yang adil nan bijaksana. Ialah seorang yang bukan siapapun pada mulanya, kemudian datang dengan senyuman yang tersungging tulus menawarkan pundaknya untuk bersandar. Menuntun sang permaisuri hatinya dengan segala kehormatan dan kasih sayang demi kebahagiaan bersama di bawah naung ridho Sang Maha Pencipta.

kasih

Tanggung jawabnya yang besar ia pikul dengan kebanggaan dan kebahagiaan, bahwa ia telah temukan seorang wanita tercantik yang bersamanya segala beban itu menjadi ringan karena ketaatan dan kepatuhannya, segala gundah tak pernah lagi ada karena ada sang setia menemani dan menghangatkan malam-malamnya, kata-kata lemah lembutnya yang mendamaikan segala kegelisahan yang membuncah. Sesaat saja sirna dengan senyum dan lakunya yang menyejukkan jiwa.

Semakin waktu berlalu, sakinahnya tetap saling membina. Mawaddahnya tak pernah berubah. Rahmah senantiasa tercurah. Meski, tak jarang bumi berguncang, dan ombak memberontak, sang nahkoda tetap kukuh memandu, dengan penuh harap dan doa bahwa Allah pasti kan kuatkan dan teguhkan kapalnya. Karena cintanya terbina dengan nama Allah, karena Allah.

Menyaksikan imamnya yang teguh iman dan upaya, hati permaisuri takkan beku selamanya. Ia menangis. Lubuk terdalamnya tetap dan akan tetap mengabdikan diri pada suaminya tercinta. Yang pertama kali datang padanya dengan senyum yang tulus, yang tawarkan pundaknya tanpa ragu dan mengeluh. Sedia menjaga dan mengasihinya. Yang padanya pintu surga Allah dapat terbuka.

sun tangan

Wahai Robb..Sang Pencipta yang telah menyatukan Adam dan Hawa, yang menyatukan rusuk-rusuk pada wadahnya..jadikan jiwa-jiwa yang saling mencinta atas namaMu bersatu selamanya dalam surgaMu yang terindah, jadikan jiwa-jiwa yang saling berkasih karenaMu menjadi raja dan permaisuri yang menghuni istanaMu, karuniakan pada keduanya putra-putri yang shaleh dan shalehah, yang menjadi qurrata a’yun, yang meluaskan maghfirahMu atas ayah bundanya..Aamiin aamin ya Robba l ‘aalamiin….

 doa

 

Mencari & Menjadi…Ada apa?

Kemarin,  mata saya tiba-tiba saja tertarik untuk melirik sebuah postingan dari Indahnya Cinta Karena Allah di facebook, …

“Jangan MENCARI tapi MENJADI..

Jangan mencariyang baik, tapi jadilah yang baik, jangan mencari yang sholeh, tapi jadilah akhwat sholehah.. jangan mencari yang sholehah, tapi jadilah ikhwan sholeh…

Karena walaupun kita mencari tapi diri kita tidak menjadi, ALLAH tidak akan memberikan.. namun jika kita menjadi tanpa mencaripun ALLAH sudah menyiapkan karena untuk masalah jodoh, ALLAH akan memberikan sesuai dengan kepribadian & kadar keimanan kita.. (QS.An-Nur:26)

Semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan. Sadari bahwa apa yg kita dapatkan hari ini adalah yang terbaik menurut ALLAH & jangan pernah ragu, karena kesadaran itu akan menjadikan kita nikmat
menjalani hidup ini…

Janganlah kamu mencintai seseorang dengan cara yang berlebihan, karena bisa jadi suatu ketika nanti kau akan malah balik
membencinya, Begitu pula dengan benci, janganlah kamu membenci seseorang dengan mendalam, karena bisa jadi pada suatu hari nanti kamu malah balik
mencintainya” (Ali bin Abi Thalib ra).

Berusaha mencari orang yang baik-baik dan sholeh untuk di jadikan pasangan hidup memang suatu yang baik..Tetapi lebih baik menjadikan diri sendiri orang yang baik terlebih dahulu sebelum memberi selembar kriteria sebagai calon, pendamping, lebih baik kita dulu di utamakan dalam mempelajari Agama Islam dan Mengamalkannya….

Berusahalah menjadi baik kepada yang lebih baik..

Semoga kita di pertemukan jodoh dengan orang baik Agamanya, tentunya baik dalam pilihan-Nya…

Aamiin ya Rabbal’alamin..”

Secara mendadak rasa dalam hati, logika dan ragaku mengasosiasikan semua yang kubaca barusan dengan apa yang kualami sendiri. Dalam nyata. Ternyata sangat menarik untuk kita teliti apa-apa saja yang telah kita perbuat. Bukan dengan alasan riya’ atau apapun. Akan tetapi justru untuk muhasabah diri, evaluasi diri..sudahkan aku MENJADI? Ataukah masih MENCARI (SAJA)? Nista namanya jika kita selama ini hanya berupaya MENCARI YANG TERBAIK sementara diri kita sendiri belum BERUPAYA MENJADI YANG BAIK.

Mudah-mudahan Allah bimbing kita untuk MENJADI ORANG BAIK, sehingga akan dipertemukanNya pula dengan ORANG YANG BAIK, tanpa kita MENCARI. Aamiin.

PENDIDIKAN REMAJA antara ISLAM DAN ILMU JIWA

Memandang sebuah buku tebal, kenang-kenangan dari seorang kawan, nuraniku tertantang untuk ‘ngaji’ isinya. Cukup lama bolak-balik aku baca,…yo, karena bukunya berbobot, daaaan temporer sangat, otakku mencerna belum se-maksimal yang diharapkan, masih loading untuk mahami betul  maksudnyadan masih harus bikin bener-bener mood, interested dengan buku yang satu ini. Padahal yah, kawanku yang kasih ini buku, uiiiiiih, cerdas top markotop..man.

Okay..yuk kita mulai saja! Mudah-mudahan, Allah memudahkan upaya kita belajar ilmuNya yah…aamiin.

PENDIDIKAN REMAJA

antara ISLAM DAN ILMU JIWA

Dalam Kata Pengantar, penulis, yakni DR.M. Sayyid Muhammad Az-Za’balawi menyuratkan; Pentingnya kajian ini, merupakan salah satu hal yang mendorong dipilihnya topik ini. Pertama, adalah karena pada masa pubertas terdapat keistimewaan tersendiri yang menyebabkan kompleksitas dan beragamnya tuntutan perkembangannya. Bahwa pada masa merekalah permulaan bagi sempurnanya kematangan dan keikut-sertaannya dalam lingkungan masyarakat pemuda. Kedua, sedikitnya karangan, karya ilmiah atau tulisan islami yang berbicara tentang topik ini dari beberapa seginya. Ketiga, penulis mendapati asumsi yang tidak benar yang masih menguasai pemikiran mayoritas psikolog. Asumsi serta pemikiran asing dan sesat menyesatkan ini mempunyai pengaruh negatif terhadap para remaja puber dan pemuda dalam masyarakat Islam.

Sedikit komentarku; pancen,…dalam bahasa Indonesia, Nyatanya…memang benar, kita terkadang tidak sadar, bahkan tidak terlalu peduli dengan apa yang ada di sekitar kita..yang sebenarnya secara perlahan amat mempengaruhi pola pikir dan pola laku kita, ada gerakan yang lembut dari ‘orang tak nampak’ yang bermain di belakang screen, yang diam-diam menginginkan Islam merosot, Islam jatuh dalam degradasi moral yang tidak karuan, musmeeeet mikirinnya, so,,jangan hanya dipikir, ahsan kita berantas saja dan lawan misionaris perusak moral dengan sareng-sareng melakukan kebaikan, dan saling mengingatkan dengan kesabaran dan kebenaran, tawashou bil haqqi wa tawashou bis shobri..contoh kecil; kecamuk di dunia maya nampak jelas, sedikit saja ketik satu kata di google search ‘Muslimah’..jiaaaaannn, yang keluar muacem-muacem yang ngga bisa kita hindari atau seleksi, ada yang beneran tulisan, gambar, foto muslimah, tapiii..ada juga yang munculnya gambar yang ngga sopan ikutan nampang dengan pede dan bangganya bisa ngerusak image Muslimah, padahal ngga tahu tu siapa. Menyebalkan! Eittts…komentarku kebanyakan, ups, punten nyaa..agak melenceng dari topik.^_^

Lanjut..>>>>

Jadi beliau, Pak Sayyid Muhaammad Az Za’balawi, ini berupaya menguatkan Islam dengan upayanya mengarahkan para orang tua, tenaga pendidikan, dan remaja itu sendiri untuk lebih dekat dengan Islam. Membahasakan ilmunya dalam riset dan kajiannya dengan tema tersebut di atas. Tujuannya apa?? Dengan latar belakang pemilihan topik yang tiga poin di atas, bisa kita simpulkan..agar kita bisa selamat dan waspada dengan asumsi dan pemikiran yang belum tepat mengenai ‘Remaja’, dengan beliau menghadirkan perbandingan antara ‘Islam’ dan ‘Ilmu Jiwa/ Psikologi’.

 ^_^ for the first talking..adalah;

Muraahaqoh  – مراهقة

Secara bahasa, Raahaqa l ghulaam berarti mendekati baligh. Sehingga dari verb/ fiil raahaqa tadi terbentuklah isim mashdar berupa Muraahaqoh; muraahiq artinya seorang anak yang mendekati usia baligh dan muraahaqah sendiri berarti fase yang padanya dimulai perkembangan menuju kematangan. (dalam al Qamuus al Muhiitth)

Dalam al Quran disebutkan kata ‘raahaqa/ rahaqa’ pada beberapa tempat. Di antaranya adalah sebagai berikut; dalam surat Yunus ayat 26-27. Bismillahi r Rahmaani r Rahiim..

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Yunus 26-27)

Pada surat Al Jinn ayat 6 disebutkan; Bismillahi r Rahmaani r Rahiim..

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”

Masih dalam surat al Jinn, disebutkan kembali ‘rahaqa’ pada ayat yang ke-13; Bismillahi r Rahmaani r Rahiim..

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلا يَخَافُ بَخْسًا وَلا رَهَقًا

“Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Qur’an), kami beriman kepadanya. Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.

Dari ayat-ayat di atas, Penulis buku ‘Pendidikan Remaja antara Islam dan Ilmu Jiwa’ ini mengarahkan kita untuk mengambil kesimpulan bahwa arti atau maksud dari rahaqa dalam alQuran seluruhnya bermakna; kesesatan, kegelisahan dan kebingungan yang dialami oleh hati orang-orang yang tunduk pada musuh mereka, yaitu syetan.

Sementara, menurut mayoritas psikolog, berpendapat bahwa kata Murahaqah berasal dari bahasa latin. Sebagaimana disebutkan kutipan dari Dr. Musthafa Fahmi berkata, bahwa kata muraahaqah ini dari bahasa latin yaitu adolecere, artinya; proses bertahap menuju kematangan fisik, seksual, rasio dan emosi. Sehingga menurut Dr. Musthafa ini jelas ada perbedaan antara muraahaqah dan kata puber, yang terbatas pengertiannya pada salah satu jenis pertumbuhan saja, yaitu segi seksual. Dan beliau mendefinisikan baligh sebagai kematangan kelenjar reproduksi dan timbulnya tanda-tanda kematangan seksual yang baru, yang memindahkan seorang anak dari fase kanak-kanak menuju fase manusia dewasa.

Banyak perbedaan pendapat dalam mengartikan muraahaqah ini. Namun, kita dapat menggaris bawahi bahwa muraahaqah dalam kajian psikologi Arab adalah terjemahan dari Adolecerce, serupa yang disampaikan pada paragraf sebelumnya. Fase murahaqah ini dimulai dengan fase puber, yang pada anak wanita dimulai antara usia 11-13 tahun, dan pada anak laki-laki antara 12-14 tahun. Jika pada wanita, fase ini berlangsung hingga sekitar usia 17 tahun, pada anak laki-laki fase ini berlangsung sampai sekitar usia 18-19 tahun. Dan murahaqah sendiri, pada dasarnya adalah proses biologis dan dinamis.

….uhm,..Temen-temen, sudah mulai maksud belum?…husnudzonku, sudah lah yah, intinya dari pemaparan tersebut di atas adalah fiil Rahaqa serta beberapa kata yang dibentuk darinya bermakna; bodoh, dusta, melakukan perkara haram, yang berbahaya, memaksa orang lain melakukan sesuatu yang tidak terpuji, dan seterusnya. Makna-makna ini ternyata terdapat pada seorang remaja atau muraahiq yang dididik dengan tidak baik, atau disia-siakan. Karena itu, dengan belajar dan sharing bersama ini, kita…sebagai siapapun kita adanya, dituntut untuk memberikan pendidikan, atau pengaruh yang sesuai dengan tabiat fase pertumbuhan ini. Sudah barang tentu, pengaruh yang mesti kita tularkan adalah pengaruh-pengaruh dan nilai-nilai positif.

Terlebih lagi, melihat pada fakta dan fenomena di sekitar kita. Berbagai bentuk ketidak-pasan laku sudah merebak di berbagai penjuru; mulai dari merokok yang berlebihan, memalak di antara siswa, bermain PS atau judi, menghabiskan waktu dengan sia-sia, pacaran yang over act, bahkan penggunaan barang-barang haram serupa khamr, narkoba. Itu sudah menjadi bagian yang banyak ditemukan di kehidupan remaja negeri kita ini. Menjadi tantangan kita semua, seluruh pihak..untuk membenahi, mengarahkan, mendidik, dan mawas diri.It’s still just muqaddimah …Brotha n Sista, sebuah prolog..sekelumit gambaran mengenai apa yang akan kita coba gali dari karya pak Muhammad Sayyid Az Za’balawi.

Salah dan khilaf mesti menjadi bagian dariku, yang masih harus banyak belajar. So..kritik, saran, masukan, tanggapan monggo disampaikan saja…Insyaallah, bermula dari Muqaddimah ini, kita akan lanjutkan lagi discuss kita ke pembahasan yang lebih detil lagi. Ila l liqoo..fil mabhats at taaliy. ^_^

WaAllahu a’lamu bis showaab.

Sumber;

–          buku ‘PENDIDIKAN REMAJA antara ISLAM dan ILMU JIWA’, karya DR. M. Sayyid Muhammad Az Za’balawi, penerbit Gema Insani, dengan judul asli ‘TARBIYATUL MURAAHIQ BAINAL ISLAAM WA ILMI N NAFS’.