Mirip Nggak Mirip

Karya: Khanza Saidatina

Siswi kelas 3 Discipline SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01

Arysad dan Ilham berjalan-jalan di dekat pasar. Seorang anak lelaki seusia mereka tiba-tiba menghampiri mereka. anak laki-laki itu lalu meperhatikan wajah Arsyad.

“ada apa sih?”, tanya Arsyad yang merasa risih diperhatikan seperti itu. Diitatapnya wajah anak itu dengan keheranan.

“Kamu..ehm..pasti adiknya Raffi Ahmad, bintang sinetron terkenal itu, ya?”, kata si anak lelaki. Dia memandangi lekat-lekat wajah Arsyad, “ Benar, kamu pasti adiknya Raffi Ahmad ! iya kan??!”.

Arysad seketika menggelengkan kepala. “ Tidak!”, katanya tegas. “ Aku bukan adiknya Raffi Ahmad”.

“Bukan??”, si anak laki-laki tampak keheranan.” Ngga usah bohong gitu, deh. Kamu pasti adiknya Rffi Ahmad, iya kan? Ngaku aja..”.

“ Bukan”, kata Arsyad lagi. “ Kamu bagaimana sih??! Aku sudah bilang aku bukan adiknya Raffi Ahmad, tapi kamu malah ngotot begitu. Kenapa kamu ngga percaya sih?”.

“ Ngga usah bohong”, balas si anak laki-laki. Tetap dengan sangkannya.

“ Kalau iya, aku ngga ngapa-ngapain kok. Pliiis…kamu adiknya Raffi Ahmad kan, Ihhh…”.

“ Aku bukan adiknya Raffi Ahmad…permisi ya, kita harus pergi. yuk, Ilham… kita kan sedang diminta ibu membeli tomat ”.

Iklan

Catatan Perjalanan : Dian Nafi’ (Level V Utsman


Catatan Perjalanan :
Dian Nafi’ (Level V Utsman bin Affan SD IT Al-Irsyad 01 Purwokerto)

25 – 26 Desember 2012

Sore itu bapak menegurku “ayo cepat lari terus…. mendaki Gunung Merapi membutuhkan fisik yang kuat”. Akhirnya aku teruskan berlari untuk persiapan mendaki. Kadang aku lari muter di GOR Satria, kadang lari dari Purwokerto ke Purbalingga dan kalau capek banget berhenti dulu. Tapi aku sudah terbiasa latihan fisik seperti di klub bulutangkis sebelumnya. Aku dibelikan sepatu gunung dan pelindung kaki (gaitter) lewat internet, ketika barangnya datang aku senang sekali. Aku pakai dan lihat di cermin, tidak lupa pakai tas punggung dan topi, seperti seorang pendaki cilik. Pada tanggal 25 Desember sebanyak 6 orang dengan teman-teman bapaku mulai berangkat dari Purwokerto jam 09.00 pagi, lewat Banjarnegara dan Magelang. Sepanjang jalan pemandangannya bagus sekali, akhirnya aku sampai di Selo Kabupaten Boyolali. Disitu adalah desa terakhir di kaki gunung Merapi.
Sebelum naik gunung harus mendaftar dulu di Pos jaga dan mempersiapkan alat mendaki, diantaranya adalah tenda dome, ransel, topi, jaket, tali, pisau, HT, kantong tidur, alat masak, makanan, air dll. Aku mulai mendaki dari Base Camp jan 23.30 dengan melalui ladang penduduk, kemudian masuk hutan. Jalannya susah sempit dan menanjak. Cuaca malam itu cerah sekali, kelihatan bintang-bintang di langit gelap. Dari atas tampak hamparan lampu-lampu kota Solo, Boyolali, Magelang dan Salatiga.
Jam 04.45 sudah mulai kelihatan warna merah dari arah Timur, tidak lama kemudian mulai muncul sinar matahari terbit (sun rise). Sholat subuhnya sambil duduk di batu dan dengan bertayamum. Pada jam itu sangat dingin sehingga membuat perapian untuk menghangatkan badan dengan kayu-kayu yang ada di sekitarnya. Setelah itu istirahat sejenak membuat mie instan, susu coklat dan makan roti. Bapak juga bawa buah apel kesukaanku, dikupasin lagi.
Perjalanan dilanjutkan melewati rumput dan tumbuhan kecil (perdu, sabana) sampai ke batas vegetasi (batas antara tumbuhan terakhir dengan pasir bebatuan). Disitulah bapak mengajak untuk berdoa di “In Memorium” para pendaki yang telah gugur di Gunung paling aktif di dunia. Sedih rasanya, jadi ingin menangis. Tampak jelas lereng yang sangat curam menuju kawah Merapi di puncak. Pasir dan batu-batu kecil sampai besar yang gampang lepas. Perjalanan ini butuh waktu lama karena harus hat-hati dan semua pendaki berpencar agar tidak kena batu dari pendaki lain di atasnya.
Akhirnya sampai juga di puncak Gunung Merapi yang tadi pagi kelihatan cerah. Pada saat jam . 09.40 kabut dan bau gas belerang yang sangat menyengat sehingga bapak memutuskan hanya 10 menit di puncak. Indah sekali.. mengerikan, luas…. Allah SWT Maha Pencipta dan Maha Agung.
Kemudian semua turun dengan fisik yang sudah lunglai, sampai di Base Camp pendakian jam 15.00 sore. Di base camp sudah ada makan telur goreng, kerupuk dan sayur tempe, tapi nikmatnya luar biasa tidak seperti makan di rumah. Terasa sangat lelah, dingin.. tapi puas.. melihat dari dekat kawah Merapi. Gunung yang banyak merenggut korban jiwa saat terjadi letusan dan awan panas. Bukti kebesaran-Mu ya Allah.
Akhirnya semua tertidur pulas, jam 12.00 malam semua dibangunkan bapak dan saatnya pulang ke Purwokerto. Selamat tinggal Merapi yang cantik… esok lusa aku datang lagi. Aku selalu merindukanmu.
Banyak pelajaran yang diambil dalam pendakian menuju Puncak Merapi ini. Harus sabar, harus bisa bekerjasama dengan yang lain, kuat fisik, harus berani dan semangat. Tidak lupa selalu mengingat Allah dalam setiap langkah, keagungan keindahan kesempurnaan….. Allah karunia dan rakhmat-Mu juga yang akan mengiringi kami.

النبأ
(BERITA BESAR)
Surat ke 78 : 40 ayat

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا
6. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?,
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
7. dan gunung-gunung sebagai pasak?,
وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا

Foto Dokumentasi :

Santai di Base Camp sebelum mendaki Istirahat sejenak dalam perjalanan

Nafi minta dikupasin apel Berdoa di “In Memorium” smoga diterima di sisi Allah SWT.

Hi hi… ada pendaki dari Italia Lanjuuutt!!! Semangat……semangaaaatt

Medan berpasir dan batuan lepas Medan berpasir dan batuan lepas
Dengan kemiringan ± 45º Dengan kemiringan ± 45º

Medan batuan yang terjal dan berkabut Matahari mulai bersinar… hangaaat

Di bibir kawah puncak Merapi Bye bye Merapi…….. suatu saat aku datang lagi

Latar belakang adalah Gunung Merbabu

Walaupun aku anak yang manja.. tapi harus berani

My Angkot Forever

 

Karya : M. Hilman

Kelas : 5 Ummar bin Khottob, SD Al irsyad 01 Purwokerto

Waktu aku pulang sekolah tadi, aku nunggu angkot di daerah Pasar Wage. Sekitar jam setengah empat aku baru dapat angkot. Akhirnya…

Siang itu aku dapat pelajaran berharga dari pak supir angkot. Selama perjalanan kami merasa hampa karena belum ada komunikasi dan sapa antara kami.

Akhirnya aku lebih duu bertanya, “Pak, sudah berapa lama bekerja sebagai supir angkot?”. Pak supir menjawab, “yaa, hampir 12 tahun lebih”, “Oh, udah lama juga ya, Pak. Selama Bapak  jadi supir Bapak pernah punya kejadian yang ga enak ga, Pak? “ , tanyaku, “Kejadian yang ga enak sih pasti banyak ya, mulai dari penumpang yang bayarnya ga sesuai tarif ada, samapai yang ga bayar juga ada”, ujar pak supir, “Lah, kalo yang ga bayar sih gimana , Pak? Apa Bapak yang ganti uang setorannya? Ya rugi dong, Pak?”, tanyaku lagi, “ya gimana ya? Mau ga mau sih dek, dari pada dimarahi sama yang punya angkot?! Mending saya ganti. Itung-itung buat amal”, kata pak supir,”Oh, memang penghasilan bapak perharinya berapa?”, tanyaku,”ya ga mesti sih dek’, kalo lagi rame ya bisa 300an lah perhari, tapi kalo lagi sepi paling Cuma seratus lima puluh ribu aja, itupun dipotong buat setoran delapan puluh ribu rupiah”, kata Bapak , “Wah, anu Pak, maaf sebelumnya, apa Bapak pernah merasa bersalah sama istri dan anak Bapak karena pekerjaan Bapak itu mungkin kurang bisa ngebahagiain istri anak?”, tanyaku. “ Waduh, gimana ya, Dek. Saya merasa sangat bersalah karena pekerjaan saya ini mungkin kurang bisa ngebahagiain istri anak saya, sebenarnya anak saya sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Waktu itu ada kejadian yang tidak bisa Bapak ceritakan. Saya sebenarnya dulu adalah pengusaha. Tapi pada waktu itu karyawan saya banyak yang mengambil uang tanpa sepengetahuan saya, sehingga usaha saya bangkrut. Pada waktu itu anak saya sedang mau masuk SMA. Saya pusing memikirkannya. Pada saat kejadian tersebut tiba-tiba anak saya hilang selama tiga hari. Saya sudah berusaha melaporkan kepada polisi serta mempublikasikannya kepada masyarakat identitas anak saya yang hilang, tetapi hasil yang didapat adalah anak saya ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Pada waktu itu adalah puncak kehancuran hidup saya. Saya berusaha tegar menghadapi ini semua. Tetapi ada satu kejadian lagi,  bahwa istri saya sampai sekarang belum ikhlas menerima kenyataan kerasnya dunia. Semenjak kejadian itu istri saya sering sakit-sakitan. Saya bingung lagi untuk membelikan obat untuk istri saya. Untuk makan kami berdua saja sudah pas-pasan, gimana buat biaya obat yang makin mahal. Saya berusaha untuk terus bersabar menjalani kerasnya dunia sambil berdoa. Saya juga percaya semua bisa terjadi. Apalagi Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambaNya tersebut. Melai saat ini saya berusaha memulai kehidupan saya dari nol. Saya berusaha menunjukkan ketegaran saya di depan istri saya. Saya berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga saya. Sampai saat ini sebenarnya saya sangat rindu denan anak saya, ya untuk menutupi rasa rindu saya, saya sering melihat figura foto saat keluarga saya masih lengkap”, ujar pak sopir tadi, sambil terdiam aku berpikir seharusnya aku selama ini bersyukur apa yang udah orang tua kasihin ke aku, keluarga semua sayang ke aku, aku ga bisa bayangin gimana jadinya kalau keluargaku jadi seperti itu .

Udah cukup lama ngobrol –ngobrol, akhirnya aku sampe juga di depan rumah, sambil mengucapkan terimaksih aku juga ga lupa buat bayar angkotnya. Hahaha…

 

Hadiah Untuk Ayah

 

Karya: Salma Farah Nabila

Siswi kelas 5 Utsman bin Affan SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 purwokerto

Ayahku…

Tak ada hari seperti hari ibu

Sedikit waktu untuk menemaniku

Selalu sibuk dengan pekerjaanmu

Tetapi engkau tak pernah lupa dengan keluargamu

Ayahku…

Ini adalah sebuah hadiah

Hadiah kecil dariku untuk ayah

Yang selalu memberi kami nafkah

Tanpa kau kenal kata lelah

Aku sayang padamu, Ayah