Surat Cinta

Teruntuk: Calon Imamku


Bismillahirrahmaanirrahiim…

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh…

Wahai calon Imamku. Dalam diam ini kusapa engkau. Pada baitan doa yang kurangkai perlahan. Dalam kerisauan penantian yang kan tetap kuteguhkan… Kau adalah rahasia yang terindah. Karena kuyakin, pada saatnya nanti, Allah kan mempertemukan.

Wahai Calon Imamku, doaku pada Allah adalah teguhnya imanmu. Keteguhan yang melebihi karang di lautan..yang dengannya kau bawa perahu cinta kita menggapai ridhoNya, menuntunku dan anak-anak kita pada mahabbah kepadaNya, bersama-sama kita mengeja mengaji ayat-ayatNya. Yang karenanya (imanmu kepada Allah) aku tunduk dan patuh padamu. Yang karenanya pengabdianku padamu seutuhnya.

Wahai Calon Imamku, aku wanita yang jauh dari sempurna. Aku bukan yang paling baik, bukan yang paling istimewa di antara wanita-wanita muslimah. Namun, aku akan berusaha untuk menjadi baik, menjadi yang terbaik…karenanya, saat bersama kelak..tuntun aku dengan segala kebijaksanaanmu yang kau bangun dari ketaqwaan, kesabaranmu yang terlahir dari keikhlasan dan kasih sayang.

Wahai Calon Imamku, aku manusia lemah…seringkali mengungkapkan isi hati dengan air mata dan tangis, bersediakah kau pinjamkan bahumu untukku bersandar, dan tenangkan aku dengan kata-katamu yang penuh kelembutan..

Wahai Calon Imamku, terimakasih, karena iman di dadamu, kau telah menjaga hatimu, menjaga cintamu…mudah-mudahan Allah akan menjaga kita kelak dari siksa neraka dan membangunkan rumah untuk kita di surgaNya…Aamiin ya Robba l ‘aalamiin.

Wassalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh.

 

Ruang Hening Bening

23:40 / 03/06/2014

Gambar

Ning, Murnikan Hatimu!

wudhu

Rindu merabai dinding-dinding rongga dadaku. Menusuk relung hati yang dingin menjadi lebih lara. Merobohkan benteng perlindungan rasa yang kubangun sejak aku berikrar dalam hati sendiri bahwa mahabbahku takkan kutanamkan pada seorang pun kecuali pada ia yang mengikrarkan janjinya di depanNya, di depan kedua orangtuaku, di hadapan penghulu untuk memimpinku, membimbingku. Membodohkan kewarasan, menaklukkan ketangguhan. Demikian hasrat yang menyeruak perlahan namun pasti. Indah nian. Namun, tetap menyakitkan.

Surat Al Ikhlas kubaca berulang. Aku mengeja makna dari tiap ayatnya. Sebagaimana yang bapak pernah ajarkan di suatu malam panjang. Tentang keikhlasan. Harapku, dengan cara ini, aku semakin kokoh dengan kesucian cintaku padaNya.

Bismillahirrahmaanirrahiim, qul huwa Allahu ahad; katakan bahwa Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Esa. Satu,” samar suara bapak dalam ingatanku.

Terdiam, aku mencari kembali ‘keikhlasan’ dalam hati untuk benar-benar mengesakanNya Yang Esa. Dengan syahadat yang pernah kuucap. Asyhadu al laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammada r rosuulullah..aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad utusan Allah.

Keikhlasan, ikhlas berasal dari bahasa Arab yang kutahu memiliki arti ‘kemurnian’. Hati yang murni untuk mengabdi pada Yang Esa.

Sekali itu, aku menyadari. Betapa selama ini aku jauh dariNya. Berlalu segala waktu dengan kesibukan yang runyam tanpa aku menyertakan Dia yang menjadi satu-satunya Maha Kuasa akan  segala urusan hambaNya. Karena itulah, ya, karena itulah aku lelah. Hati ini, pikiran ini. Mengurusi segala tetek bengek hidup dengan kemampuan manusiawi yang terbatas. Bukan. Sekali-kali bukan ini yang mestinya kulakukan. Ada Allah di belakangku; yang siap sedia memberikan pertolonganNya, yang menggantikan keterbatasan manusiawiku dengan rahmatNya.

Allahu s shomad; Allah-lah –satu-satunya- tempat bergantung, sandaran, tempat bersandar,”

Sudahkan kamu gantung-sandarkan segala perkara padaNya? Demikian kata bapak. Aku jawab -saat itu- belum. Aku terlena materi duniawi yang menipuku untuk lebih banyak menggantungkan hajatku pada apapun, siapapun. Aku melupakanNya. Astaghfirullah..bahkan aku seringkali –sepenuhnya- berkeyakinan bahwa cita-citaku akan tercapai dengan kemampuanku sendiri. Kepercayaan-diriku sesungguhnya memberatkan. Keinginanku, egoku kudahulukan ketimbang sadarku akan kehendakNya yang paling utama. Aku mendahului takdir. Mendahului kehendakNya. Sombong di hadapanNya. Maka, itu dapat menjadi musibah besar manakala segala yang kau inginkan tak tercapai. Kamu akan mudah putus asa dan patah semangat. Jelas bapak lagi. Masih dalam damainya ingatanku saat duduk bersamanya.

Cinta macam apa jika aku menomorduakan cintaku padaNya setelah nafsuku pada keinginanku sendiri. Benar saja, jika apa yang kuinginkan begitu sulit untuk kugapai. Karena Allah ‘cemburu’. Ia dapati cinta hambaNya tak murni kembali. Maka, Ia jadikan cita-cita itu tertunda agar si hamba sadar akan kesalahannya, sampai ia kembali pada ‘keikhlasan’.

Pada akhirnya, aku pun sadar. Sadar bahwa Allah-lah satu-satunya yang paling tahu apa yang terbaik bagiku. Maka, pada kehendakNya kupasrahkan untuk mengarahkan segala gerakku. Biarlah aku berusaha, berjuang. Selanjutnya, Allah yang mengarahkanku ke arah manapun yang terbaik untukku menurutNya. Bahkan tentang nafsuku merindui makhluk yang belum pula menjadi imamku. Aku telah salah. Mengapa aku merinduinya sementara rinduku pada Allah belum sempurna kutunaikan? Mengapa dalam benakku aku ingin bersandar pada pundaknya, sementara Allah-lah yang sejatinya menjadi satu-satunya tempatku bersandar? Setiap waktu yang terlewat dan tiap nafas yang kuhela, seringkali aku lebih banyak ‘berdzikir’ mengingat namanya, sementara namaNya aku sedikit sekali ingat. Sedikit sekali kudzikirkan. Ya Allah…inni dzolamtu nafsiy, robbiy ighfir liy..

Lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakun lahuu kufuwan ahad. Dia tiada beranak, tiada pula diperanakkan. Serta tak ada sesiapapun, atau apapun yang setara dengan Dia.”

Pantaskah jika seorang hamba menyanjung nama seseorang padahal ada Allah yang lebih pantas dan wajib untuk disanjung dan dipuji, didzikirkan sepanjang waktu? Bukan karena Ia membutuhkan hamba untuk beribadah padaNya. Namun, justru karena hamba tak mampu lepas dariNya. Dalam seluruh hal, hamba membutuhkanNya. Karena kesalahanku inilah aku menjadi begitu jauh dariNya. Ya Robbiy, aku ingin kembali. Bimbing aku kembali pada jalanMu..

Kututup al Quranku. Menengok kembali isi hati yang sebelumnya tak tentram. Ada sejuk yang kurasakan. Kedamaian yang sempat hilang. Kedekatan yang sempat renggang. Merapat mendekat kembali pada Allah, putusku kemudian. Untuk memberi terapi hati. Alangkah indahnya jika cinta karena Allah sudah tiba pada waktunya…

Purwokerto, 21:50

08 Februari 2014

Dalam Ruang Hening Bening

 

^_^ Indahnya Malam Ini…

Beberapa malam lalu, -entah bagaimana awalnya- aku dapati sebuah mimpi yang amat membahagiakan. Seperti aku lah yang paling bahagia malam itu. Tiba-tiba saja, aku menjadi seorang ibu di alam tidurku. Aku menggendong bayi yang amat tampan, wajahnya menawan dengan senyum tak pernah lepas tiap kali aku memandang matanya. Raut wajahnya putih merona. Kucium ia berulang kali. Menjadi seorang ibu muda. Aku benar-benar bahagia, meski aku sadar itu bukanlah nyata. Aku sudah jatuh cinta, sudah sayang pada ‘mereka’ yang belum hadir sebenarnya.

Mendekatiku yang tengah bercanda bersama buah hatiku, seorang ikhwan dengan jas hitam rapi muncul. Ia memanggilku dan anakku dengan lembutnya. “ De, Mas mau cium Kaka sini..”, katanya, memanggil anakku dengan ‘kaka’.

Siapa dia? Kataku dalam hati. Wajahnya tak kukenal sama sekali.  Aku baru sadar. Ialah imamku, suamiku di sini. Sebuah dunia semu yang menjadikanku sempurna. Aku tersenyum dan mengucap tasbih saat mataku terbuka. Subhaanallah… Aku menyayangi mereka, sejak saat ini. Sejak mereka telah Allah cantumkan menjadi bagian dari takdirku nanti. Allah, izinkan aku menjadi sebagaimana yang kualami dalam mimpi indah malam ini. Suatu saat nanti. Aamiin ya Robba l ‘aalamiin.

Membuka sebuah sosial media, ada tulisan penuh makna kutemukan. Menyentuh hatiku. Bismillah. Aku ingin membagikannya pada yang lain, men-share-kannya kembali. Berharap ada yang dapat turut mengambil hikmah darinya. Sebuah Akun Dakwah, Indahnya Cinta Karena Allah menuliskan;

Untukmu Calon Imamku Yg Akan Bertahta Di Hatiku

Tahukah engkau,sebenarnya hatiku menolak ketika fitrah cinta datang menyapaku karena ku tahu bahwa dia bukanlah engkau,Maka dengan semampuku,ku berusaha menjaga hati ini,agar ia tetap tak tersentuh oleh selain hati yang bukan dirimu…

Karena bagiku, Untuk apa ku buka hati ini agar terisi dengan seseorang, bila suatu saat dia belum tentu menjadi pasanganku?

Untuk apa ku membuang waktu memikirkan seseorang,bila suatu saat dia belum tentu menjadi mahramku?

Untuk apa ku membiarkan pandanganku kepada seseorang, bila suatu saat dia belum tentu menjadi kekasih halalku?

Untuk apa ku membebaskan diriku untuk menyentuh seseorang, bila suatu saat nanti dia bukan dirimu yg kelak menjadi Imamku?

Aku yang mencintaimu ini, tak kan mampu memberikanmu hati yang bekas, sedangkan Allah telah menyiapkan untukku pasangan terbaik yaitu engkau…

Meskipun, aku belum pernah tahu siapa engkau karena hanya pernikahan yang akan menyibakkan tabir..siapakah engkau yang akan dikaruniakan Allah untukku..

Tetapi hatiku ini telah belajar mencintaimu sejak dulu, karena kutahu bahwa setiap manusia telah ditentukan pasangannya ketika masih di dalam rahim ibu.

Namun naluriku mengingatimu, ketika fitrah cinta itu harus datang menggebu di masa penantianku…Oleh karenanya bersabarlah engkau dengan kesabaran yang baik dalam pencarianmu, dan jagalah pandanganmu, bila engkau tidak mampu menahan rasa cemburu ketika pandanganku tidak terpelihara kepada yang bukan mahramku..

Namun sekarang engkau bukanlah siapapun bagiku, hingga waktu di mana Allah meridhai dan kita halal bertemu , Untukmu Calon Imamku yang akan bertakhta dihatiku, sampai saat ini aku tidak tahu siapa engkau,kecuali ijab qabul telah terucap untuk menghalalkan kita bersatu…

 الّلهمّ إنّي أسأل حبّك و حبّ من يحبّك و العمل الّذي يبلّغني إلى حبّك…..

“Ya Allah, Ya Tuhanku…Kupinta kan cintaMu, kupinta cinta seorang yang mencintaimu, dan kupinta amal yang menyampaikanku pada cintaMu…Bimbing aku tuk mengabdi setia padaMu”.

 

Indahnya Cinta Karena Allah

Untukmu, Saudara- saudariku yang kan penuhi syari’atNya tunaikan Sunnah Rasul yang terindah…

“Tidak ada kalimat terindah yang pernah seorang wanita dengar kecuali saat ada seorang laki-laki menyatakan kesediaannya menanggung segala kebutuhannya, membimbingnya, menjadikannya bertahta dalam kedaulatannya yang adil nan bijaksana. Ialah seorang yang bukan siapapun pada mulanya, kemudian datang dengan senyuman yang tersungging tulus menawarkan pundaknya untuk bersandar. Menuntun sang permaisuri hatinya dengan segala kehormatan dan kasih sayang demi kebahagiaan bersama di bawah naung ridho Sang Maha Pencipta.

kasih

Tanggung jawabnya yang besar ia pikul dengan kebanggaan dan kebahagiaan, bahwa ia telah temukan seorang wanita tercantik yang bersamanya segala beban itu menjadi ringan karena ketaatan dan kepatuhannya, segala gundah tak pernah lagi ada karena ada sang setia menemani dan menghangatkan malam-malamnya, kata-kata lemah lembutnya yang mendamaikan segala kegelisahan yang membuncah. Sesaat saja sirna dengan senyum dan lakunya yang menyejukkan jiwa.

Semakin waktu berlalu, sakinahnya tetap saling membina. Mawaddahnya tak pernah berubah. Rahmah senantiasa tercurah. Meski, tak jarang bumi berguncang, dan ombak memberontak, sang nahkoda tetap kukuh memandu, dengan penuh harap dan doa bahwa Allah pasti kan kuatkan dan teguhkan kapalnya. Karena cintanya terbina dengan nama Allah, karena Allah.

Menyaksikan imamnya yang teguh iman dan upaya, hati permaisuri takkan beku selamanya. Ia menangis. Lubuk terdalamnya tetap dan akan tetap mengabdikan diri pada suaminya tercinta. Yang pertama kali datang padanya dengan senyum yang tulus, yang tawarkan pundaknya tanpa ragu dan mengeluh. Sedia menjaga dan mengasihinya. Yang padanya pintu surga Allah dapat terbuka.

sun tangan

Wahai Robb..Sang Pencipta yang telah menyatukan Adam dan Hawa, yang menyatukan rusuk-rusuk pada wadahnya..jadikan jiwa-jiwa yang saling mencinta atas namaMu bersatu selamanya dalam surgaMu yang terindah, jadikan jiwa-jiwa yang saling berkasih karenaMu menjadi raja dan permaisuri yang menghuni istanaMu, karuniakan pada keduanya putra-putri yang shaleh dan shalehah, yang menjadi qurrata a’yun, yang meluaskan maghfirahMu atas ayah bundanya..Aamiin aamin ya Robba l ‘aalamiin….

 doa

 

Mencari & Menjadi…Ada apa?

Kemarin,  mata saya tiba-tiba saja tertarik untuk melirik sebuah postingan dari Indahnya Cinta Karena Allah di facebook, …

“Jangan MENCARI tapi MENJADI..

Jangan mencariyang baik, tapi jadilah yang baik, jangan mencari yang sholeh, tapi jadilah akhwat sholehah.. jangan mencari yang sholehah, tapi jadilah ikhwan sholeh…

Karena walaupun kita mencari tapi diri kita tidak menjadi, ALLAH tidak akan memberikan.. namun jika kita menjadi tanpa mencaripun ALLAH sudah menyiapkan karena untuk masalah jodoh, ALLAH akan memberikan sesuai dengan kepribadian & kadar keimanan kita.. (QS.An-Nur:26)

Semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan. Sadari bahwa apa yg kita dapatkan hari ini adalah yang terbaik menurut ALLAH & jangan pernah ragu, karena kesadaran itu akan menjadikan kita nikmat
menjalani hidup ini…

Janganlah kamu mencintai seseorang dengan cara yang berlebihan, karena bisa jadi suatu ketika nanti kau akan malah balik
membencinya, Begitu pula dengan benci, janganlah kamu membenci seseorang dengan mendalam, karena bisa jadi pada suatu hari nanti kamu malah balik
mencintainya” (Ali bin Abi Thalib ra).

Berusaha mencari orang yang baik-baik dan sholeh untuk di jadikan pasangan hidup memang suatu yang baik..Tetapi lebih baik menjadikan diri sendiri orang yang baik terlebih dahulu sebelum memberi selembar kriteria sebagai calon, pendamping, lebih baik kita dulu di utamakan dalam mempelajari Agama Islam dan Mengamalkannya….

Berusahalah menjadi baik kepada yang lebih baik..

Semoga kita di pertemukan jodoh dengan orang baik Agamanya, tentunya baik dalam pilihan-Nya…

Aamiin ya Rabbal’alamin..”

Secara mendadak rasa dalam hati, logika dan ragaku mengasosiasikan semua yang kubaca barusan dengan apa yang kualami sendiri. Dalam nyata. Ternyata sangat menarik untuk kita teliti apa-apa saja yang telah kita perbuat. Bukan dengan alasan riya’ atau apapun. Akan tetapi justru untuk muhasabah diri, evaluasi diri..sudahkan aku MENJADI? Ataukah masih MENCARI (SAJA)? Nista namanya jika kita selama ini hanya berupaya MENCARI YANG TERBAIK sementara diri kita sendiri belum BERUPAYA MENJADI YANG BAIK.

Mudah-mudahan Allah bimbing kita untuk MENJADI ORANG BAIK, sehingga akan dipertemukanNya pula dengan ORANG YANG BAIK, tanpa kita MENCARI. Aamiin.

Bersiap-siaplah!

Serpihan III

Inilah saatnya, ketika segala sesuatunya akan segera dimulai, setelah beberapa sekon kemudian…

Bersiap-siaplah!

Debaran dada kita semakin kencang, tangan seperti mendadak menjadi dingin, dan gelisah seperti menjadi kawan dekat kita. Hmmmz..mungkin demikian gambaran ketika memasuki detik-detik kita akan beralih dari dunia yang serba hanya tentang kita sendiri, menuju dunia kita memiliki seorang yang akan bersama-sama kita untuk berbagi..berpindah dari yang awalnya kita merupakan tanggungan orangtua kita berpindah kepada seorang yang kemudian akan kita sebut ia imam kita, suami kita..ayah dari anak-anak kita. Dan sebaliknya, laki-laki kemudian menjadi sempurna tanggung jawabnya, manakala ia pun memutuskan untuk memulai sebuah hidup baru, dengan seseorang baru, yang akan ia pertanggung-jawabkan dunia dan akhirat, menjadi sempurna dengan kehadiran seseorang yang dengan dan bersamanya ia membagi cerita, keluh, kesah, bahagia..hunna libasun lakum wa antum libaasun lahunna ..(al ayat).

Kawan-kawanku…Ikhwaniy wa ikhwatiy Fillah…

Abu ‘Umar ‘Ubadah memanuskripkan nasehatnya kepada putrinya, sehingga dapat kita kaji nasehat tulusnya ini menjadi sebuah pembelajaran. Bagaimana seorang ayah dan ibu mendidik kita,  putra-putrinya, menuntun kita selagi kita masih tak mampu memilih jalan yang terbaik dan benar (sesuai tuntunan ajaran Islam), mengantarkan kita putri-putranya –sebagai  kewajiban terakhir ayah ibu kita- yaitu menikahkan  putra-putrinya.

Apa saja yang Abu ‘Umar nasehatkan kepada putrinya yang hendak menikah?

Pertama, ikhlaskan niat!

Untuk tujuan apakah kita menunaikan zuwaj (pernikahan)?  Apa yang kita inginkan dari zuwaj? Apa yang kita khawatirkan jika kita menunda untuk menunaikannya?

Dari pertanyaan di atas, kita jawab dengan hati kita. Bahwa pernikahan akan mampu menjadi tameng untuk kita dari berbagai ancaman kemaksiatan; lebih memelihara kehormatan dan menjaga kesucian diri, di dalamnya nilai ibadah menjadi dua kali lipat lebih bermakna di mata Allah. Dengan mengetahui itu semua, maka BERSIAP-SIAPLAH! Mulai dari meluruskan niat kita, niat yang ikhlas dan dengan mengikuti sunnah Rasul.

Mengapa harus demikian? Hal ini dikarenakan amalan seorang hamba akan  diterima oleh Allah jka memenuhi dua syarat utama, yaitu Lillahi ta’aala, ikhlas karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah.  Terdapat dua hadits yang mengangkat tentang pentingnya niat dan mengikuti/ sesuai dengan tuntunan Rasulullah;

  1. Hadits dari Umar bin Khottob

انما الأعمال بالنّية و إنّما لكلّ امرئ ما نوى

“ Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya dan pada setiap yang dilakukan seseorang (dari amalan-amalan tersebut) itu dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.” (H.R. al Bukhari no.1 dan Muslim no. 1907)

  1. Hadits dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhaa;

من احدث في امرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ. رواه البخاري و مسلم. و في رواية لمسلم: من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو ردّ

“ Barang siapa yang mengada-adakan (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (H.R al Bukhari no.2697). dalam riwayat Muslim; “ Barang siapa yang mengerjakan sebuah amalan yang tidak terdapat padanya perintah kami (Allah dan rasul), maka amalan tersebut tertolak.” (H.R. Muslim no. 1718)

Sebagaimana yang disampaikan Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah, bahwa seorang hamba belum dapat dikatakan telah merealisasikan atau membuktikan pernyataannya ‘ Hanya kepada-Mu lah kami beribadah’ kecuali dengan dua pilar tersebut di atas; ikhlas kepada al Ma’buud, Allah dan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad.

Selanjutnya, untuk yang kedua adalah Bertakwalah kepada Allah!

Setelah bekal pertama tadi..apa ya, Kawan??? meng-ikh-las-kan ni-at Lillahi ta’aala dan me-ngi-ku-ti sunnah Rasulullah, yap..betul. kita sampai juga pada pembekalan diri kita yang kedua, yaitu meneguhkan takwa kita kepada Allah dengan menunaikan niat kita tersebut, melaksanakan perintahNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya.

Dalam banyak firmanNya, Allah memerintahkan kepada kita untuk bertakwa, karena dengan takwa-lah seorang hamba dapat dekat dengan Rabbnya, ayat tersebut antara lain; pada surat at Thalaq  di akhir ayat ke-dua, Bismillahi r Rahmaani r Rahiim..

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.”

Juga di ayat ke-empat, masih di surat at Thalaq disebutkan, Bismillahi r Rahmaani r Rahiim..

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

Sementara pada surat al Anfaal ayat ke 29; Bismillahi r Rahmaani r Rahiim..

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan (pembeda antara yang haqq dan bathil) dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Banyak perintah, atau pengulangan perintah yang sama dalam kaidah bahasa Arab  menunjukkan tegasnya perintah tersebut. Pengulangan ini membuktikan adanya ta’kid atau penguat dari perintah awal. Bertakwalah! Kemudian di ayat lain dikatakan kembali –Bertakwalah!. Demikian urjen-nya perintah takwa, sehingga Allah menyebutkannya berkali-kali.

Dalam Al Hujajul Qawiyyah halaman 18, Ibnu ‘Ajlan menyebutkan;

لا يصلح العمل إلّا بثلاث: التّقوى لله و النّية الحسنة و الإصابة

“ Amalan itu ntidak akan baik/ benar keculai dengan tiga perkara; takwa kepada Allah, niat yang baik, dan al ishaabah (mencocoki sunnah).”

Mudah-mudahan Allah membimbing kita dalam menapakai jalan hidup ini. Memberikan hidayahNya kepada kita, keluarga serta anak-anak kita, dan menjaga bahtera yang akan kita bangun agar tetap kokoh dalam iman dan takwa kita padaNya. ..terus, untuk yang sudah membangun rumah tangga itu,…selamat! baarakaAllahu fiikum wa baaraka ‘alaykum wa jama’a baynakum fil khair..aamiin.

Sampai di sini dulu ya, Kawan..sharing kita, nastamirr fi yaum at taaliy..insyaAllah, waAllahu a’lamu bis showaab.