Bersiap-siaplah!

Serpihan III

Inilah saatnya, ketika segala sesuatunya akan segera dimulai, setelah beberapa sekon kemudian…

Bersiap-siaplah!

Debaran dada kita semakin kencang, tangan seperti mendadak menjadi dingin, dan gelisah seperti menjadi kawan dekat kita. Hmmmz..mungkin demikian gambaran ketika memasuki detik-detik kita akan beralih dari dunia yang serba hanya tentang kita sendiri, menuju dunia kita memiliki seorang yang akan bersama-sama kita untuk berbagi..berpindah dari yang awalnya kita merupakan tanggungan orangtua kita berpindah kepada seorang yang kemudian akan kita sebut ia imam kita, suami kita..ayah dari anak-anak kita. Dan sebaliknya, laki-laki kemudian menjadi sempurna tanggung jawabnya, manakala ia pun memutuskan untuk memulai sebuah hidup baru, dengan seseorang baru, yang akan ia pertanggung-jawabkan dunia dan akhirat, menjadi sempurna dengan kehadiran seseorang yang dengan dan bersamanya ia membagi cerita, keluh, kesah, bahagia..hunna libasun lakum wa antum libaasun lahunna ..(al ayat).

Kawan-kawanku…Ikhwaniy wa ikhwatiy Fillah…

Abu ‘Umar ‘Ubadah memanuskripkan nasehatnya kepada putrinya, sehingga dapat kita kaji nasehat tulusnya ini menjadi sebuah pembelajaran. Bagaimana seorang ayah dan ibu mendidik kita,  putra-putrinya, menuntun kita selagi kita masih tak mampu memilih jalan yang terbaik dan benar (sesuai tuntunan ajaran Islam), mengantarkan kita putri-putranya –sebagai  kewajiban terakhir ayah ibu kita- yaitu menikahkan  putra-putrinya.

Apa saja yang Abu ‘Umar nasehatkan kepada putrinya yang hendak menikah?

Pertama, ikhlaskan niat!

Untuk tujuan apakah kita menunaikan zuwaj (pernikahan)?  Apa yang kita inginkan dari zuwaj? Apa yang kita khawatirkan jika kita menunda untuk menunaikannya?

Dari pertanyaan di atas, kita jawab dengan hati kita. Bahwa pernikahan akan mampu menjadi tameng untuk kita dari berbagai ancaman kemaksiatan; lebih memelihara kehormatan dan menjaga kesucian diri, di dalamnya nilai ibadah menjadi dua kali lipat lebih bermakna di mata Allah. Dengan mengetahui itu semua, maka BERSIAP-SIAPLAH! Mulai dari meluruskan niat kita, niat yang ikhlas dan dengan mengikuti sunnah Rasul.

Mengapa harus demikian? Hal ini dikarenakan amalan seorang hamba akan  diterima oleh Allah jka memenuhi dua syarat utama, yaitu Lillahi ta’aala, ikhlas karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah.  Terdapat dua hadits yang mengangkat tentang pentingnya niat dan mengikuti/ sesuai dengan tuntunan Rasulullah;

  1. Hadits dari Umar bin Khottob

انما الأعمال بالنّية و إنّما لكلّ امرئ ما نوى

“ Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya dan pada setiap yang dilakukan seseorang (dari amalan-amalan tersebut) itu dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.” (H.R. al Bukhari no.1 dan Muslim no. 1907)

  1. Hadits dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhaa;

من احدث في امرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ. رواه البخاري و مسلم. و في رواية لمسلم: من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو ردّ

“ Barang siapa yang mengada-adakan (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (H.R al Bukhari no.2697). dalam riwayat Muslim; “ Barang siapa yang mengerjakan sebuah amalan yang tidak terdapat padanya perintah kami (Allah dan rasul), maka amalan tersebut tertolak.” (H.R. Muslim no. 1718)

Sebagaimana yang disampaikan Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah, bahwa seorang hamba belum dapat dikatakan telah merealisasikan atau membuktikan pernyataannya ‘ Hanya kepada-Mu lah kami beribadah’ kecuali dengan dua pilar tersebut di atas; ikhlas kepada al Ma’buud, Allah dan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad.

Selanjutnya, untuk yang kedua adalah Bertakwalah kepada Allah!

Setelah bekal pertama tadi..apa ya, Kawan??? meng-ikh-las-kan ni-at Lillahi ta’aala dan me-ngi-ku-ti sunnah Rasulullah, yap..betul. kita sampai juga pada pembekalan diri kita yang kedua, yaitu meneguhkan takwa kita kepada Allah dengan menunaikan niat kita tersebut, melaksanakan perintahNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya.

Dalam banyak firmanNya, Allah memerintahkan kepada kita untuk bertakwa, karena dengan takwa-lah seorang hamba dapat dekat dengan Rabbnya, ayat tersebut antara lain; pada surat at Thalaq  di akhir ayat ke-dua, Bismillahi r Rahmaani r Rahiim..

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.”

Juga di ayat ke-empat, masih di surat at Thalaq disebutkan, Bismillahi r Rahmaani r Rahiim..

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

Sementara pada surat al Anfaal ayat ke 29; Bismillahi r Rahmaani r Rahiim..

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan (pembeda antara yang haqq dan bathil) dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Banyak perintah, atau pengulangan perintah yang sama dalam kaidah bahasa Arab  menunjukkan tegasnya perintah tersebut. Pengulangan ini membuktikan adanya ta’kid atau penguat dari perintah awal. Bertakwalah! Kemudian di ayat lain dikatakan kembali –Bertakwalah!. Demikian urjen-nya perintah takwa, sehingga Allah menyebutkannya berkali-kali.

Dalam Al Hujajul Qawiyyah halaman 18, Ibnu ‘Ajlan menyebutkan;

لا يصلح العمل إلّا بثلاث: التّقوى لله و النّية الحسنة و الإصابة

“ Amalan itu ntidak akan baik/ benar keculai dengan tiga perkara; takwa kepada Allah, niat yang baik, dan al ishaabah (mencocoki sunnah).”

Mudah-mudahan Allah membimbing kita dalam menapakai jalan hidup ini. Memberikan hidayahNya kepada kita, keluarga serta anak-anak kita, dan menjaga bahtera yang akan kita bangun agar tetap kokoh dalam iman dan takwa kita padaNya. ..terus, untuk yang sudah membangun rumah tangga itu,…selamat! baarakaAllahu fiikum wa baaraka ‘alaykum wa jama’a baynakum fil khair..aamiin.

Sampai di sini dulu ya, Kawan..sharing kita, nastamirr fi yaum at taaliy..insyaAllah, waAllahu a’lamu bis showaab.

 

 

Iklan

Di Antara Faidah Nikah

Serpihan II Dear, Ikhwaniy wa ikhwatiy fillah.. Setelah kemarin kita kaji tema Urgensi Menikah bareng-bareng, sampailah kita sekarang pada serpihan ke-dua, yang insyaAllah akan menambah ilmu kita, amiin.

Di Antara Faidah Nikah

Sebagaimana yang kita ketahui, menikah merupakan; perintah Allah kepada umat manusia yang sudah digariskan sejak zaman Adam dan Hawa, adalah sunnah rosul yang menjadi syariat islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim manakala kemampuannya telah memenuhi, baik secara materiil, maupun non materi, secara mental dan jasmani. Nah, dengan dipenuhi dan ditunaikannya syariat ini, jelas banyak manfaat yang dapat dicapai, banyak mudhorot yang dapat dijauhi. Apa saja itu? Yuk, kita pelajari bersama..^_^ Bismillahi r rahmaani r rahiim,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم 21)

Artinya; “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. Al Imam Al Qurthubiy berkata dalam kitabnya, Tasir al Qurthubiy 14/17, bahwa As Suddi berkata, ‘al mawaddah adalah al mahabbah (cinta), sedang ar rahmah adalah asy syafaqah (kasih sayang). Sementara Al Imam Ibnu Katsir menyampaikan dalam tasirnya, “ Dan Allah menjadikan antara suami dan istri mawaddah yaitu al mahabbah (cinta) dan rahmah yaitu ar Ra’fah (belas kasih)”.  Jadi menurut Al Imam Ibnu Katsir, seorang laki-laki menikahi seorang wanita adalah untuk meneruskan nasabnya, menginginkan keturunan darinya, dan untuk memberi nafkah seorang wanita, bertanggung jawab atasnya, dan atau untuk menjalin kasih sayang di antara keduanya. 4 Sehingga bisa kita simpulkan bersama, bahwa menikah bertujuan untuk mencapai mawaddah wa r rahmah, menjadi penyebab tertunduknya pandangan dari perkara yang diharamkan, dan yang pasti untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Nabi memberikan dorongan kepada para pemuda dalam sabdanya;

يا معشر الشّباب من استطاع منكم الباءة فليتزوّج فإنّه أغضّ للبصر و احصن للفرج

 “ Wahai Para Pemuda! Barang siapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah! Karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih membentengi kemaluan”  (H.R. Shahih Bukhari 1905 dan shahih Muslim 1400, sementara lafadz ini dari riwayat Muslim). Selain itu, menikah juga merupakan separuh agama. Dalam Shahiihul jami’ 430, dan Shahiih at Targhib wa at Tarhiib no.1916 disebutkan;

إذا تزوّج العبد فقد استكمل نصف الدّين فليتّق الله في النّصف الباقي

“ Barang siapa telah menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya, dan bertakwalah kepada Allah pada separuh sisanya”. Rasulullah pun akan membanggakan banyaknya umat beliau di hadapan para nabi dan seluruh umat kelak pada hari kiamat. Hal ini beliau ungkapkan dalam haditsnya;

تزوّج الودود الودود فإنّي مكاثر بكم الأمم

“ Nikahilah wanita-wanita yang penyayang dan subur rahimnya, karena aku akan membanggakan jumlah kalian (umat muslim) di hadapan umat-umat yang lain”. ( H.R. Abu Dawud no. 2050, an Nasaa’iy no. 3227). 5 Hmmm…. how wonderful this Islam, ya Ikhwaniy wa Ikhwatiy Fillah. Demi dan untuk kita, segala tatanan syariat ini Allah tetapkan dan Rasulullah teladankan kepada kita. Manakala seorang hamba menjalankan sunnah nabi dengan tujuan menjaga kehormatan diri dan kesucian jiwa, maka dia berhak mendapat perlindungan dari Allah. Demikian jaminan Rasulullah dalam haditsnya;

ثلاثة حقّ على الله عونهم –و ذكر منهم- و النّاكح الّذي يريد العفاف

“ Ada tiga golongan yang berhak mendapat perlindungan Allah –Rosulullah menyebutkan di antaranya- orang yang menikah karena hendak menjaga kehormatannya”.( H.R.at Tirmidzi no. 1655, an Nasaa’i no. 3218, al Baihaqi dalam al Kubra no. 21612. Lihat: Shahiih at Targhib no. 1308, 1917 dan Shahiih al Jami’ no. 3050). Subhaanallah, sungguh kabar gembira bagi kita semua bahwa Allah akan memberikan perlindunganNya pada kita ketika kita menunaikan syariat nan indah ini. Mudah-mudahan kita termasuk umat yang dapat membanggakan Rasulullah nanti di hari akhir, amiin. ^_^ Wallahu a’lamu bis showaab.  

Engkau Bukan Bidadari

Buku Karya Abu ‘Umar ‘Ubadah

Engkau Bukan Bidadari

Engkau tercipta berpakaian kelemahan dan kekurangan

Diliputi ketidakmampuan dan keterbatasan

Engkau tercipta dengan separuh akal dan agama

sun tangan

Daftar isi

–          Serpihan I Urgensi Menikah

–          Serpihan II di Antara faidah menikah

–          Serpihan III Bersiap-siaplah!

–          Serpihan IV Jadilah Istri Yang Sholihah!

–          Serpihan V Pendampingmu adalah Laki-laki yang Sholih nan berakhlak mulia

–          Serpihan VI Hak Suamimu atas dirimu

–          Serpihan VII Hakmu atas suamimu

–          Serpihan VIII Secercah Nasihat untukmu

–          Serpihan IX untukmu duhai putriku

–          Serpihan X Ikhtitam

Prolog- Koe

‘ Aku menuliskan Ilmu, maka aku ada’

Sedikit ungkapan, sesingkat kalimat..nyatanya, menyalakan niat yang masih sangat ‘nom’ dan butuh untuk dipupuk terus dan terus.  Dirawat agar benar-benar kokoh, niatnya ya..agar aku sendiri pun belajar. Barangkali dengan men-share-kannya, maka menjadi nilai plus tersendiri untuk upaya ‘belajar’ku di mata Allah, dan bagi kawan-kawan yang sempet mampir di ruang mainku ini.

Ini buku, memang dari sananya berjudul ‘ Engkau Bukan Bidadari’…mengenai asal usul dapat buku ini, suatu hari…ada satu siswaku mendekat, terus bilang deh, “ Ustadzah, ini ada buku dari Ummi sama Abi-ku”, demikian katanya. Say thanks terus nitip salam buat abi-umminya yang sudah baik kasih buku manis ini, ..^_^

Terus, mulai dari sini…roman-romannya, abi umminya siswaku ini memang niat banget nasehatin daku tentang ‘ Zuwaj’..owalah…Alhamdulillah, ternyata diam-diam banyak yang perhatian dan peduli juga sama ana. Tapi, mengenai tindak lanjut nasehat beliau berdua, insyaAllah nanti tak manfaatkan bener-bener bukunya…walaupun ngga langsung praktek isinya, tapi paling tidak ya…pelajarin, sambil jalan, bagi-bagi dengan yang lain..atau sambil nyiapin diri juga yah…ups, hehehe.

Yuk kita buka bareng sharing kita, mulai dari Serpihan I URGENSI MENIKAH.

Aslinya bukan serpihan siy di buku ini. Tapi langsung ke tema-tema, atau bab-bab. Namun, untuk meringankan diskusi, tak pake istilah ‘serpihan’ ya..ngga apa-apa tho’ ?

Subhaanaallah..maha suci Allah, yang menunjukkan tanda kekuasaanNya yang teramat tak berbatas; bahwa Dia menciptakan umat manusia berpasang-pasangan hingga  kita- saling cenderung pada satu sama lain (Wanita dan laki-laki, di luar itu..sudah bukan kodrat aslinya dan lurusnya) dan merasa tenteram kepadanya, Dia menjadikan perasaan cinta dan kasih sayang di antara wanita dan laki-laki. Bagaimana? Sudah ada yang dapat kita petik pelajarannya. Inilah! Tanda kebesaran Allah yang harus kita syukuri. Sebuah anugerah yang maha indah. Ada garis yang ingin Allah sampaikan pada perintahNya pada kita untuk menunaikan sunnah rosul yang paling utama ini, yakni segala ketetapanNya adalah demi dan untuk kebahagiaan kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Sebuah kebahagiaan karena kita dapat selamat dari apa yang menjerumuskan kita, dari segala yang menyesatkan kita.

Abu ‘Umar menyampaikan dalam baitan nasehatnya, “ Di atas syariat suci inilah Allah kumpulkan dua hamba yang berbeda tabiat dan wataknya, yang berbeda keinginan dan asanya, yang berbeda kemampuan dan kekuatannya, yang berbeda dalam segala aspek kehidupannya. Pernikahan merupakan jalan yang paling utama untuk mencapai kesucian diri, kehormatan diri, menundukkan pandangan yang menjadi penyebab terbesar kerusakan moral dan hancurnya harga diri. Di dalamnya, dua insan akan saling memberi dan menerima, saling menasehati dan introspeksi diri, saling perhatian dan berkasih sayang”. So far,…so good, isn’t it, my Brothas n sistas?.kasih

Dalam ayatNya, Allah menyampaikan: Bismillahi r Rahmaani r Rahiim,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya;

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Q.S.Ar Ruum; 21)

Allahumma irhamnaa bil Quraan.

Sebuah kisah yang juga telah –mungkin- sebagian besar dari kita sudah mengetahuinya, bahwa suatu ketika sahabat rosul mendatangi rumah Rosul, dan menanyakan kepada istri Rosul, bagaimana ibadah Beliau?..mendengar penjelasan istri Rosul, mereka pun kembali ke beyt mereka masing-masing.

Sepulang dari rumah Rosul, mereka menyimpulkan, bahwa Nabi Muhammad saja, yang telah dijaminkan oleh Allah dengan ‘ma’shumnya’ begitu keras dalam beribadah, begitu semangat dalam beribadah, begitu giat dalam beribadah..maka, bagaimana dengan mereka, bagaimana posisinya, ibadahnya yang masih belum seberapa dibanding ibadah Rosul..dari kesimpulan mereka masing-masing, mereka berniat untuk puasa sepanjang hari, sholat sepanjang malam, bahkan tidak menikah atau menjauhi istri-istri mereka.

Mendengar hal itu Rosulullah pun menegur mereka, kepada para sahabatnya tersebut Rosulullah menyampaiakan bahwa Ia lah Rosul, yang paling takut pada Allah, paling bertakwa kepada Allah, akan tetapi  Beliau pun berpuasa dan berbuka, beliau sholat dan tidur, dan beliau pun menikahi wanita. Maka, barang siapa yang membenci sunnah rosul, bukanlah ia dari golongan yang akan masuk ke dalam surga bersama Rosul.

Hadis riwayat Anas radhiaAllahu ‘anhu.:
Bahwa beberapa orang sahabat Nabi saw. bertanya secara diam-diam kepada istri-istri Nabi saw. tentang amal ibadah beliau. Lalu di antara mereka ada yang mengatakan: Aku tidak akan menikah dengan wanita. Yang lain berkata: Aku tidak akan memakan daging. Dan yang lain lagi mengatakan: Aku tidak akan tidur dengan alas. Mendengar itu, Nabi saw. memuji Allah dan bersabda: Apa yang diinginkan orang-orang yang berkata begini, begini! Padahal aku sendiri salat dan tidur, berpuasa dan berbuka serta menikahi wanita! Barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku. (Shahih Muslim No.2487)

– Sumber: ‘Engkau Bukan Bidadari’, karya Abu ‘Umar, penerbit Pustaka Al Haura’ dan Hadits Web.Kumpulan dan referensi belajar hadits//http.opi.110mb.com

Soo…untuk tema satu, demikian yang bisa aku share-kan dari buku beliau, Abu ‘Umar, mudah-mudahan manfaat buat kita semua, barang kali ada pendapat, opini, saran, dan atau tanggapan untuk daku berkaitan dengan tulisan ini, I am waiting and always will be. Aku tunggu ya,..dan selalu terbuka untuk sharing bareng. ^_^